Sunday, November 17, 2019

Hai temanku yang tidak kumention namanya

Hai temanku yang tidak kumention namanya,
Ketika mayoritas orang memaknai sukses dengan mengukurnya melalui materi, kamu mendefinisikan sukses jika kamu dapat memberikan dampak yang signifikan untuk warga di daerah terpencil di negeri ini.

Hai temanku yang tidak kumention namanya,
Terima kasih ya. Setelah bertemu denganmu di hari itu, aku jadi berpikir ulang mengenai purpose hidupku. Terima kasih banyak karena telah menganjurkanku untuk merenungi hal itu.

Hai temanku yang tidak kumention namanya,
Kuharap kamu tidak turn off ketika mendengar aku yang bingung, tidak mengetahui apa yang ingin dicapai dalam hidup. Sungguh, aku pernah menyusun mimpiku, tetapi di detik ini aku memilih untuk tidak bermimpi, karena aku takut, ketika mimpi kita seberbeda itu, akhir cerita kita akan seperti ending di film La La Land.

Hai temanku yang tidak kumention namanya,
Terlepas dari basa-basi atau tidaknya ucapanmu saat itu, masihkah kamu memiliki keinginan untuk membimbingku? Almarhum Bapak Habibie pernah bilang, ia rela berubah untuk menjadi the best version of himself yang almarhum Ibu Ainun inginkan dan vice versa. Jika masih, aku bersedia kok untuk kamu bimbing, dan kemudian berubah menjadi manusia yang lebih baik versimu. Asalkan logis tentunya.

Hai temanku yang tidak kumention namanya,
Tenanglah, aku tidak se-absent minded itu akan tujuan hidupku. Aku selalu ingin menjadi manusia yang dapat menginspirasi dan bermanfaat untuk orang lain. Lima paragraf yang jumlahnya sama dengan tanggal ulang tahun kamu (dan aku) ini cukup menjadi teaser untuk pertemuan kita selanjutnya. Mari kita singgahi lagi bangku kosong sisi jendela kafe di sudut-sudut kota ini dan melanjutkan cerita tentang mimpi-mimpi kamu, aku, atau malah... kita?

Dari aku,
Yang tidak sekali dua kali memention namamu,
Di dalam doaku.

Tuesday, April 26, 2016

Boundless Spirit

A very peaceful morning with Lights acoustic version by Ellie Goulding brought me here, to my deserted blog. Certain people clicked on my blog only want to find how to life in advertising agency, a field of company who force their workers to stay awake till the late night everyday --- except in my current office. But today, I'm not going to talk about that. I'm going to tell you about my future, the topic which blocking my mind in these several days.

Last week was the last day for my IELTS class. I read in another blog that after they complete their IELTS course, they can reach the minimum score to be allowed in register the overseas university. Yeah I'm happy with their achievement, but I'm feeling disappointed with my capability. My last prediction test was terrible, especially in reading section. My concentration distracted during the test, because the guy who sat next to me is extremely clever, he could finish every section so fast and yeah, I didn't finish my reading test, I didn't answer about 10 numbers. And the most heartbreaking moment when my native teacher told me to take a course in General English, to enrich my vocabulary and also fixing my grammar. Oh My God, I'm tired in attending english course because this IELTS course is the third class that I've been taking since January 2015. Moreover there's no guarantee to success in IELTS if I take any more courses.

I think I've made the readers on this blog feeling confused. A few years ago, I vehemently told in this blog that I really want to be advertising worker. But now, I need something more challenging in my life. I'm not comfortable if I do the same things everyday and you have to know that the graphic of my daily life is currently stagnant. It's terrible, guys. I don't want to be like my colleagues who spending their whole time here, especially if their incumbency never change during that long time. Stagnant skills and stagnant salary for many years.... Hmm, sounds awful for me. Improvement is a need, at least for myself. When I could reach a goal, reaching another goals is a must. Becoming a foreign student is amazing, guys. You can enhance your skill in your aspired scope, learn a new culture even the psychology of a society in abroad, and don't forget, the ability of English language also can be increased. You can find another perspective from people in another country.

I still remember about my previous dream to become an art director in advertising agency. Since my company have different regulation about separating graphic designer and art director team, I'm no longer think about that dream, neither my occupation as a graphic designer. As I said before, my passion as a graphic designer starting to become zero. I miss those challenging arena. Everyday I only do my revision, both from the client and account director (???). Sometimes I miss to take a part of a pitch or new project, but I'm a lil bit trauma of getting revision from the account team, because they don't send my project to the clients before getting approval by them whereas I have a creative director to monitor my project. It's like your design is for account director, not for the clients, because she thinks that she knows what client wants. And then clients will think that the speed of graphic designers in my company while doing a project are sooooo slow because I have to revise my design based on what the account team want. Horrible.

Back to the topic. Previously I don't think that my english course will as far as happened now. At first I only thought about preparing myself to work in multinational company but my previous english classmate make me think about taking master degree. They inspired me a lot because some of them were attending in master class at UI. They introduced me about LPDP, the scholarship from ministry of finance. Yeah, they were funded by LPDP for their master education. After completing my english course at LBI, I met more incredible friends at IALF and I realized that I'm still far from being a clever student. You can see from this article, a lot of grammatical error, kan? But I won't give up, I have to prove, at least for myself, that I can reach my dreams. I have to push myself into the limit, to change my life, to push me into more challenging arena. This is funny, I want to study hard in my 20s, not in my teens age. But it's okay since somebody said that we have to learn in our whole life. Since I got some comments from the readers of this blog that they feeling inspired after read this blog, I was determined to always be able in inspiring many people in many ways. Thanks guys :')

If you don't go for your dreams, what is your life about?

Sunday, January 3, 2016

Saya Telah Jadi Anak Ahensi

Satu tahun sudah saya nggak nulis apa-apa di blog ini. Hilang begitu aja, tanpa kabar, tanpa asa yang menggebu-gebu untuk menceritakan apa yang telah terjadi pada hidup saya di dalam situs pribadi gratisan saya ini. Sambil membersihkan debu-debu dan sarang laba-laba yang telah banyak melekat di dalam blog ini, saya akan menceritakan apa yang sudah terjadi pada satu tahun belakangan ini.

Meruntut dua postingan saya mengenai saya yang kepingin banget jadi anak ahensi sejak tiga-empat tahun yang lalu (sepertinya dari 2012), finally saya kesampaian juga untuk jadi bagian dari dunia per-ahensi-an itu. Februari 2015 saya resmi resign dari kantor event organizer yang telah saya ceritakan pula sebelumnya. Yaaa, nggak lama dari postingan saya bulan Desember 2014, Januari-nya akhirnya ada ahensi yang rela 'mungut' saya untuk bisa jadi bagian dari mereka. Kala itu saya senengnya bukan main, yaiyalah, mimpi saya dari tahun 2012 itu akhirnya tercapai juga di 2015. Butuh waktu tiga tahun untuk bisa menaikan kemampuan saya agar portfolio saya bisa dilirik oleh mereka. But unfortunately, saya belum bisa untuk menaikan level saya ke jenjang yang lebih tinggi, art director yang kerjaannya ngonsepin iklan. Hingga detik ini saya masih aja jadi graphic designer dan di kantor saya sekarang ini, graphic designer bukan bawahannya art director. Di sini art director sama graphic designer beda tim. Kalo AD yang ngerjain iklan, kalo GD yang ngerjain keperluan BTL atau desain-desain kayak bikin packaging dll.

Awalnya saya enjoy dengan kerjaan saya yang kebanyakan bikin desain packaging itu. Permen sefenomenal "Manis Asem Asin Rame Rasanya!" atau biskuit sememorable "Imut, Enak Bergizi" bisa saya yang kecipratan ngerjain packaging-nya. Tapi kalian harus tau kalo bikin packaging itu prosesnya lamaaaaa banget, bisa bertahun-tahun. Waktu ngolah konsep dan ngolah desainnya pertama kali itu masih bahagia feelnya, tapi setelah itu, revisi revisi revisi (bisa lebih dari 10x revisi) dan dimasukin ke BPOM, you have to know that itu bosenin banget. Ketika kerjaan timnya art director udah ganti berkali-kali dalam beberapa bulan, tim desain masih harus stand-by dengan brand yang sama dari beberapa bulan/tahun yang lalu karena desainnya nggak kunjung-kunjung FA (final artwork, siap dicetak), meski dalam kurun waktu tersebut ada pekerjaan desain yang lain lagi, dari brand yang berbeda tentunya. 

Believe it or not, selama hampir satu tahun di sini, baru satu desain buatan saya yang udah naik cetak, itu pun sepertinya belum launching karena belum tanggalnya launching. Selebihnya belum ada yang FA. Satu tahun. Satu desain. Kacau. Fyi, desain yang belum launching itu (harusnya) belum boleh untuk diperlihatkan kemana-mana, termasuk untuk dimasukan ke dalam portfolio. Secara otomatis, desainer yang karyanya belum launching itu belum boleh pindah ke tempat lain karena karyanya masih nyangkut di status confidential. Sebenernya boleh aja nyebar CV ke tempat lain (yang tentunya portfolionya nggak memuat karya yang belum launching itu), tapi kalau yang kayak saya, satu tahun satu desain, mau jualan apa? Portfolio tahun kemarin, saat masih di kantor lama?

Ngomongin pindah-pindah kantor, di akhir 2015 kemarin saya sempet kepikiran akan hal itu. Rasanya nakal banget sih, baru juga mau setahun, masa udah kepikiran hal itu? Gimana jadi temen-temen saya yang udah dapet emas berkali-kali? Fyi lagi, di kantor saya itu yang udah mengabdi di atas 6 tahun dapet reward berupa emas batangan, cuti satu bulan, dan sejumlah uang dengan mata uang US dollar. Penghargaan tersebut diberikan setiap kelipatan enam tahun masa kerja, jadi misalnya masa kerja 6 tahun, 12 tahun, 18 tahun, dst. Nah di kantor saya, kerja 4 tahun aja masih dibilang sebentar, karena yang mengabdi udah lebih dari 20 tahun aja ada! Masa saya yang istilahnya baru masuk ini udah kepikiran keluar lagi? But from the deepest of my heart, I'm getting tired. Jujur-jujuran aja ya, kerjaan saya di kantor lama, kantor yang saya pikir saya nggak akan berkembang di sana, ternyata kerjaannya jauh lebih challenging daripada kerjaan saya sekarang. Menurut saya lho. Karena dulu nggak cuma desain, tapi saya juga ngonsepin event, bener-bener gali mulai dari nol, trus sering banget ikut pitching dan lebih banyak yang golnya daripada yang kalahnya (ini sih salut sama bos saya juga sih, cara dia presentasi selalu bisa meyakinkan kliennya sehingga konsep yang udah kami buat bisa terdelivered dengan baik ke kliennya). Secara load kerjaan, di kantor sekarang karena ada banyak banget timnya dan orangnya, kalo lagi nggak ada kerjaan, saya bisa aja nggak ngapa-ngapain selama seminggu penuh. Dulu-dulu sih seneng, apalagi kalo momennya pas banget, misalnya habis hectic kerjaan dateng bertubi-tubi, trus setelahnya dikasih waktu senggang begitu. Tapi sekarang-sekarang malah jadi mikir, I'm 22 years old and I do nothing in the office. Masih muda dan kebanyakan waktu senggang itu seakan mematikan otak, tau. Agak 11-12 sama petuah yang pernah disampaikan bos saya di kantor lama, gini kurang lebih, "Makin banyak tidur makin bodoh kamu, nak.". Oh yeah, I always thinking about that during my 'leisure' time.

You know what? Jam-jamnya nggak ada kerjaan di kantor itu adalah masa paling serba salah di kantor. Mau Facebook-an, kalo terus menerus nggak enak dilihat orang lain, disangkanya ini anak nggak ada kerjaan apa kok Facebookan melulu. Mau nonton film, di sini bukan bioskop, kels. Mau ikut kontes desain, eh kerjaan sampingan yang udah pasti berbayar aja belum disentuh. Mau ngerjain kerjaan sampingan, rasanya nggak etis. Belum lagi mesti siapin jawaban kalo lagi ditanya ini itu. Belum lagi pula kalo ada yang kurang ajar teriak-teriak, "Cieee Talita ngerjain side job.." Sehingga semua orang tau. Minta disumpel pake kaus kaki busuk apa ya. Gitu deh, serba salah kan. 

Saya masih nggak tau apa rencana saya di tahun ini. Terasa banget masih blur-nya. Dua tahun masa kerja masih jadi graphic designer yang nggak kunjung naik kasta, tujuan masuk ahensi buat ngerjain iklan, sampe sekarang masih belum dapet amanah untuk ngerjain itu, masih aja nyangkut di kerjaan packaging yang sebenernya bukan nggak doyan ngerjainnya, tapi kalo emang saya pengen ngerjain packaging, saya larinya nggak akan ke ahensi iklan, kali. 

Dilematis mau pindah kantor, tapi statusnya belum jadi art director di sini, rasanya sulit untuk lolos jadi art director di kantor berikutnya, meski jadi junior sekalipun. Portfolio iklan nggak ada, awards-awards-an juga buru-buru deh, seumur-umur dapet piala aja belum pernah :'). Ya kan dibilang seumur hidup bisa lolos ini itu cuma modal hoki doang hahaha. Mana kepikiran mau coba lanjut sekolah juga lah, karena kalo nggak lanjut sekarang, nanti keburu ketuaan terus nggak jadi lanjut sekolah.

Yhaaa udahlah, seperti biasa, hampir setiap postingan dalam blog ini memang selalu terasa menggantung dan tanpa konklusi. Awal tahun dan tanpa resolusi... It's not a big deal, Lita. Semoga aja hari-hari setelah postingan ini dimuat, pencerahan itu akan segera datang kepada saya. Harus selalu yakin, God knows the best for us, yes :)

Have a good day, pals!

Saturday, January 31, 2015

Saya Mau Jadi Anak Ahensi - Part 2

Desember 2014.

Bulan November telah usai, 2014 pun juga hampir usai. November lalu terasa begitu penuh buatku, terutama di bulan November bagian akhir. Banyak sekali kejadian yang tak terduga dan semua begitu terasa nano-nano. Sedikit bocoran, November 2014 buat saya adalah tentang pitching, wisuda kedua kalinya yaitu wisuda sarjana, dan proses untuk mencapai mimpi.

Masih ingat tulisan saya yang ini --- Saya Mau Jadi Anak Ahensi - Part 1? Kelanjutan tulisan saya ini ternyata terjadi di bulan November. Desember 2013 saya bilang kalau saya akan kembali ke dunia ahensi di sekitar bulan Agustus-September 2014. Tapi kenyataan berkata lain. Di bulan-bulan tersebut saya masih saja disibukan dengan skripsi sarjana saya. Bolak balik bimbingan skripsi kesana kemari, revisi yang tak kunjung usai, pekerjaan kantor yang semakin menggila, plus saya harus lembur sampai tengah malam. Berkali-kali saya berusaha mencari tombol escape karena tidak yakin kalau seluruhnya akan terlewati dengan baik, tapi tombol itu tak pernah ditemukan. Bayangkan saja bagaimana rasanya ketika pekerjaan kantor datang tanpa henti, kemudian malamnya saya harus pergi bimbingan, dan parahnya, PR bimbingan saya belum benar-benar selesai. Meski pergi bimbingannya pukul setengah delapan malam, tapi saya bener-bener merasa akan melarikan diri dari kantor, meninggalkan pekerjaan-pekerjaan yang sebenarnya harus dikerjakan. Padahal sebenarnya di pukul setengah enam saya sudah terbebas dari pekerjaan dan boleh beranjak pulang. Yah gimana, nasib kerja di Event Organizer kan begitu. Over time dan tanpa uang lembur, tanpa dapat makan malam pula. Oke, yang terakhir itu untung-untungan. Makanya, sejujurnya dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya gemes banget kalau lihat anak-anak yang hanya punya satu okupasi --- mahasiswa aja maksudnya, tapi skripsinya nggak selesai-selesai, padahal mereka nggak harus banting tulang untuk mengumpulkan pundi-pundi keuangan. Terus karena terlambat lulus, uang semesterannya harus dibayarkan ekstra sama orangtuanya. Kenapa miris banget?

29 November lalu saya diwisuda. Tombol escape yang nggak pernah saya temukan itu memang seharusnya nggak pernah saya temukan, karena tombol escape hanya muncul untuk yang lemah, semacam loser. Meskipun banyak kecacatan dalam wisuda saya kemarin, but overall, saya bangga, bangga sekali. Jerih payah selama 6 bulan terakhir ini akhirnya terbayar juga, saya bisa mengikuti wisuda untuk yang kedua kalinya. Kuliah empat tahun, wisuda dua kali, di umur 20 dan 21 tahun. Terus pas lulus statusnya sudah bukan fresh graduated lagi, tapi sudah dengan pengalaman pekerjaan selama 1 tahun sebagai full time creative designer. Yaampun, kalau dirujuk ke postingan-postingan blog ini seperti Postingan Tahun 2010 dan Postingan Tahun 2012, saya udah nggak punya lagi alasan untuk jadi orang yang nggak bersyukur. Saya cinta, cinta sekali dengan hidup saya, meski dalam urusan percintaan, mungkin saya yang terpayah :)) #Intermezzo.

Selain menawarkan cerita tentang wisuda, di akhir bulan November ini saya baru sempat mencoba peruntungan kembali untuk masuk ke dalam dunia ahensi. Bukan sekadar mencoba peruntungan tentunya, tapi mencoba kembali meraih mimpi yang sempat tertunda selama satu tahun.



Sampul CV Talita Leoni Rizkitysha 2015

Dua kata, naik kelas. Saya antarkan CV saya ke beberapa tempat, dan tentu saja dengan fasilitas surat elektronik. Saya yang bisa dibilang sebagai yesterday afternoon child ini tentu nggak pernah membayangkan kalau ternyata ahensi yang akan manggil saya adalah salah satu multinational agency di Indonesia, yang kantornya juga berada di gedung-gedung perkantoran megah di bilangan Jakarta Selatan. Dan yang lebih nggak pernah saya bayangkan adalah saya yang dipanggil di sana sebagai art director. MEEEN, banyak gaya banget anak umur dua satu ngeapply jadi art director! Dan benarlah, saat di-challenge untuk mengonsep sebuah iklan televisi, saya agak banyak bingung di awal, karena di saat itu pula, tepat di depan sang creative director, saya harus mengeluarkan ide-ide gila saya. Akan tetapi karena saya yang minim akan pengalaman menjadi art director, ide yang saya keluarkan ya begitu saja, bukan sesuatu yang oh-my-God-that-is-a-great-idea. 

Creative director di sana bilang kalau desain saya bagus, bagus banget. Dia merekomendasikan saya untuk jadi graphic designer di sana kepada sang HRD. Wah, saya seperti melihat ada secercah harapan untuk menjadi bagian dari mereka. Saya sudah membayangkan kalau, "Wah, Talita, fresh graduated in Bachelor degree with one year working experience, sekarang jadi anak ahensi di multinational company lagi, terus klien-kliennya dari luar negeri." Ya, saya hanya anak ingusan yang hobi sekali ngayal. Saya ngayal terlalu jauh, karena pada kenyataannya, untuk saat itu di sana belum membutuhkan graphic designer. Mereka bilang, mungkin di awal tahun, di saat pekerjaan sedang datang banyak-banyaknya, ada posibilitas untuk mereka panggil saya lagi :') 

Sebelum saya kembali ke kantor, sang HRD berpesan pada saya untuk segera mengambil kursus bahasa inggris, karena di ahensi, setidaknya ada satu dua orang ekspatriat. Dan pesan lainnya adalah saya harus berlatih untuk berpikir kreatif dengan membuat personal project. Mungkin bisa berupa kampanye sosial yang problematikanya diangkat dari masalah-masalah di Jakarta. 

Sepulangnya dari sana, tentunya ada perasaan kecewa di dalam hati kecil saya. Tapi di sepanjang perjalanan menuju kembali ke kantor, saya begitu bangga atas diri saya sendiri, mengingat satu tahun yang lalu, kantor-kantor yang memanggil saya untuk interview adalah bukan berasal dari ranah advertising agency. Sedikit nggak nyangka aja, ternyata portfolio saya bisa tembus ke dunia ahensi. Yang tadinya saya meragukan kalau saya akan berkembang di kantor saya sekarang yang merupakan event organizer, ternyata saya telah salah menilai. Desain saya bukannya downgrade, malah jadinya berkembang pesat. Begitupun dengan cara saya mendevelop sebuah konsep. Jam kerja yang jauh lebih banyak daripada teman-teman seprofesi saya ternyata cukup mempengaruhi portfolio saya. Yaaa, ternyata Tuhan memang lebih mengetahui mana yang terbaik untuk kita, kan?

Monday, July 7, 2014

Dear Fresh Graduated

Some people work for (much) money,
another work for skill and experience.

Entah kenapa di pagi ini kata-kata tersebut terlintas di benak saya. Teringat tentang teman-teman saya, bahkan yang studinya belum selesai pun begitu mengharap bayaran sebesar-besarnya. Begitu pula ketika mereka hanya berstatus sebagai anak magang, harapan untuk mendapatkan bayaran jauh lebih besar dibanding banyaknya ilmu yang akan didapat. Hanya senyuman penuh arti yang bisa saya ekspresikan kala itu.

Di dalam hati pun saya tertawa dan bergumam ketika mereka berkata seperti itu. "Memangnya apa yang bisa dijual dari kamu? Kamu yakin kalo dengan ngehire kamu dan memberikan bayaran besar buat kamu akan lebih bermanfaat dibanding bayar sedikit lebih mahal untuk yang lebih berpengalaman?". Pahitnya, kalau saya yang jadi bosnya, saya tidak mau merekrut anak magang yang seperti itu. Namanya juga anak magang, yang sebenarnya perlu kan anaknya. Dibayar/tidak dibayar ya bonus. Dulu pun saya magang tidak sepeser pun uang yang saya terima, karena di kantor magang saya dulu, mereka tidak ingin kalau motivasi magangnya adalah untuk mendapatkan uang. Tetapi tenang, Tuhan itu adil kok. Ilmu yang saya dapat terhitung jauh lebih banyak diserap dibanding teman-teman saya yang magangnya dibayar. Manis kan?

Tanpa kemunafikan, saya juga pernah kok berekspektasi untuk mendapat bayaran di atas UMR Jakarta ketika nantinya saya lulus D3 dan bekerja. Tapi ketika saya terjun langsung di dunia nyata dan ekspektasi tersebut berbalik layaknya jarum jam yang dipaksa untuk berputar ke arah kiri, saya baru memahami tentang sebuah proses kehidupan. Jujur, saya hanya mendapatkan gaji pokok sebesar 50% dari ekspektasi saya. Jaminan kesehatan dan teman-temannya? Tentu saja....... mana ada.

Di awal saya menjadi fresh graduated, saya harus amat pintar dalam menyusun anggaran. Kenyataan pahit seperti harus berjalan kaki dengan kecepatan tinggi selama 15 menit dari stasiun hingga kantor dan membawa perbekalan dari rumah harus saya jalani selama beberapa bulan pertama. Perjalanan harus dilakukan secepat mungkin demi tidak adanya potongan gaji. Belum lagi di setiap hari Jumatnya saya harus mengeluarkan 1 lembar berwarna merah muda demi keberangkatan saya menuju kampus dan kepulangan saya yang begitu larut dari kampus menuju rumah. Bagaimana jam kerjanya? Jangan pula berpikir saya pulang Teng-Go, saya harus menyiapkan tenaga lebih untuk overtime.

Terkadang saya berpikir kalau saya dan sapi perah tiada bedanya. Namun saya selalu berusaha untuk meyakini kalau keindahan dan kenyamanan akan saya dapatkan di waktu yang tepat. Dan benar saja, dalam waktu dua bulan, saya mendapatkan kenaikan bayaran yang cukup besar. Orang lain yang menuntut bayaran besar di awal pun saya rasa tidak pernah mendapatkan kenaikan sebesar ini, apalagi untuk fresh graduated. Lagi-lagi, saya merasa telah menjadi orang yang paling beruntung di dunia ini.

Sebenarnya ada begitu banyak lahan pekerjaan yang bisa membuat saya tidak merasakan overtime yang berlebihan. Namun saya kembali berpikir, mengapa saya harus pulang Teng-Go di usia 20 tahun? Apa dengan bekerja Teng-Go skill saya akan sama dengan ketika bekerja lebih lama? Ada banyak alasan untuk menjawab tidak. Bobot pekerjaannya sudah pasti berbeda dan portfolio akan menjawab semuanya. Di pikiran saya, tidak apa sekarang gaji pas-pasan, yang penting tidak ada kebodohan di masa depan, kan?

Oh ya, yang terparah, jangan sampai bekerja untuk gaji yang besar tetapi dengan mengesampingkan passion. Bekerja di luar passion itu tidak menyenangkan sama sekali, yang ada malah jadi bekerja setengah hati.



Jadi gimana, uang banyak atau pengalaman?
Itu pilihan kamu.



TLR
Ramadan day 9
Working for passion, skill and experience.

Monday, February 3, 2014

Perpindahan

Selalu ada banyak cerita tentang perpindahan. Dalam denotasinya, perpindahan bisa digambarkan sebagai kendaraan berroda yang dapat bergeser posisi, atau juga tempat tinggal yang akan terus berpindah. Cerita lainnya, hati manusia pun bisa berpindah, singgah dari satu hati ke hati yang lainnya, meninggalkan cerita lama dengan orang lain yang pernah disinggahi hatinya.

Dulu saya sempat berpikir bahwa perpindahan pasti akan menyebalkan, di mana kita harus kembali beradaptasi dengan lingkungan yang belum tentu akan lebih baik dari lingkungan sebelumnya. Beberapa bulan setelahnya, saya sempat mengetikan buah pikiran saya di sebuah jejaring sosial, kurang lebih seperti ini, "Karena perpindahan tidak selalu menyebalkan." Iya, tapi itu beberapa bulan yang lalu. Hari ini saya kembali mempertanyakan hal itu. Apa iya tidak selalu menyebalkan?

Dalam rentang waktu 1 bulan ini, di kantor kecil saya sudah 4 orang mencabut kewajiban bekerjanya sendiri di kantor kecil milik bos kami. Alasannya pun beragam, bisa karena memang memiliki masalah dengan atasan, bisa mungkin karena tidak sreg dengan kantor ini, atau mungkin saja ada tawaran pekerjaan lain dengan gaji yang menggiurkan. Saya tidak tahu pasti apa alasannya, karena dari 4 orang tersebut, hanya 1 yang meminta izin untuk berpindah --- mungkin ke tempat yang lebih baik. Bagaimana dengan yang lainnya? Ya, mereka hilang begitu saja, tanpa memberikan kabar kepada kami semua hingga kami hanya bisa bertanya-tanya sendiri kepada hati kecil kami, mengapa mereka berpindah dan tanpa mengucapkan selamat tinggal?

Sungguh saya pun masih asing dengan pemandangan seperti ini. Saya ingat betul di saat hari pertama saya magang di kantor advertising dulu, seorang asing yang diduga sempat menjadi copywriter di sana berjabat tangan, memberi pelukan hangat, dan mengucapkan selamat tinggal ke setiap pekerja di sana. Teman-teman yang ditinggalkannya pun juga tak kuasa untuk membendung rasa sedihnya, sedih kehilangan satu keluarganya untuk berpindah ke tempat yang lebih baik. Kehangatan itu pun terasa hingga sudah waktunya saya mencabut kewajiban saya sebagai anak magang 3 bulanan di sana. 2 lusin donat ternama saya bawa di hari terakhir saya mengabdi di kantor advertising tersebut. Semua berkumpul di ruang tengah, memberikan evaluasi terakhir untuk saya, dan juga tak lupa, sebuah hadiah yang dibungkus dengan kertas kado batik itu pun ada di atas meja, untuk saya. Di jam-jam terakhir saya menginjakkan kaki di sana pun saya tak lupa kembali memberikan jabatan tangan terkuat dan terhangat untuk keluarga 3 bulan tersebut. Mereka juga masih memberi saya wejangan-wejangan, supaya ketika saya lulus dan bekerja, saya bisa memperbaiki setiap kekurangan pada diri saya. Sedihnya pakai banget di kala itu. Melihat sekeliling, mengingat tidak akan ada lagi rutinitas untuk kembali bolak-balik ke sana.

Kesan mengenai hari terakhir di kantor magang dulu sungguh membekaskan cerita yang mendalam di hati saya. Tetapi kenapa hari ini, kenapa di lingkungan baru ini, saya tidak bisa menemukan hal itu? Kenapa mereka pergi tanpa pamit, tanpa mengucap selamat tinggal? Apa iya, hal ini terjadi karena tidak adanya ikatan batin yang terjadi pada satu sama lain? Apa iya, yang ada di pikiran mereka, "Kalau saya pergi juga nggak akan ada yang kehilangan..."? Lalu bagaimana jika suatu kali nanti saya yang harus berpindah?

Entah, saya hanya bisa menelan ludah.

Thursday, December 12, 2013

Saya mau jadi anak ahensi.

Saya bingung, kenapa semenjak saya masih duduk di bangku kuliah, saya sangat mengincar untuk kerja di ahensi (agensi periklanan). Ketika beberapa teman-teman saya, baik dari jurusan yang sama ataupun jurusan lain mengincar untuk bekerja menjadi PNS atau di BUMN, ketika yang lainnya ingin masuk ke tempat besar seperti Kompas, atau pergi ke majalah, saya tidak mengikuti euforia tersebut. Padahal saya tahu, sepanjang saya menjadi anak magang di ahensi, kehidupan di ahensi itu nggak jauh dari kata zombie. Pergi pagi, pulang pagi. Kerjaan pun sering tak terkontrol. Dimana kita jadi client service, ya se-24 jam yang kita miliki itu buat memberikan service ke klien. Mereka minta deadline malam ini, ya malam itu kita harus selesaikan juga. Saya ingat betul masa-masa saya melotot karena terlampau kaget ketika mendengar newsletter katalog salah satu bank yang penuh dengan angka dan gambar (tiap bulannya harus diganti, kak!) sangat kecil itu harus selesai dalam satu hari. Padahal belum masukin gambarnya, ngepathnya (menghilangkan background dan kemudian backgroundnya menjadi transparan), mindahin kata-kata dari tabel klien ke newsletternya, eh revisinya apalagi. Waktu itu saya masih jadi anak magang, jadi saya masih bisa berlega hati karena saya hanya bertugas sebagai 'pembantu' para art director yang mengalami kesusahan. Tapi sekarang? Apa iya saya akan terus-terusan terjebak dalam kenyamanan anak magang?

Btw sejujurnya saya udah kerja. Udah dari November-ceria-milik-kita-bersama saya punya occupation baru. Bukan anak magang lagi, bukan freelancer lagi, tapi saya udah jadi graphic designer di salah satu event organizer. Kalo ditanya nyaman, saya akan jawab nyaman, lengkap dengan bangetnya. Seumur-umur saya nggak pernah ngerasain kenyamanan seperti ini. Saya nggak terjebak dengan kegilaan jalanan Jakarta yang terkenal macetnya hingga ke ujung dunia, iya, saya naik kereta, cuma 5 MENIT dari stasiun dekat rumah karena hanya cukup melewati 3 stasiun saja. Dari stasiun ke kantor saya hanya butuh jalan kaki sekitar 10-15 menitan. Itu kalo saya lagi pelit. Terkadang kalo saya lagi sok kaya, saya naik kendaraan umum dan butuh waktu cukup 5 menit. Gimana dengan makanannya? Saya bawa bekal dari rumah. Porsi makan pagi dan makan siang saya bawa semua ke kantor. Jajan? Itu cuma ada kalo saya laper banget dan kekurangan porsi perbekalan. Saya nggak bisa ngebayangin kalo ongkos kereta masih 8000, pasti saya nggak akan naik kereta dan memilih moda transportasi lain dan menelan pahit-pahit kemacetan Jakarta. Oh ya, bagaimana dengan pekerjaan di kantor saya? Saya nggak menemukan overload-to-do-list di sini. Alhamdulillah saya malah bisa mencari uang tambahan dari keisengan saya mengikuti situs crowdsourcing dalam hal desain mendesain. Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

Tapi... iya, masih ada kata tapi. Manusia emang nggak pernah punya rasa puas. Udah dikasih enak, masih aja mau yang lebih lagi. Oke, balik ke topik. Tapi jiwa saya yang menggebu-gebu ingin menjadi bagian dari kreatif di advertising agency terus meronta-ronta. Saya menganggap masuk ahensi itu tantangan dan kecil kemungkinan kalo desain saya akan downgrade. Di sana banyak orang-orang hebat dengan skill yang oke punya, karena bukan orang sembarang yang bisa berhasil 'nyemplung' ke dalam dunia ahensi. Mindset yang ditanamkan oleh salah satu senior saya di kantor magang iklan dulu itu telah sangat tertanam di pikiran saya dan itu cukup dalam. Mbak Raina pernah bilang, "Soalnya kalo di sini (di kantor magang saya) bisa belajar semuanya. Bisa pegang proyek desain dalam bentuk apapun." sambil menggoyang-goyangkan tangannya. Portfolionya memang cukup beragam di kantor magang saya dulu. Bahkan dapat dikatakan fleksibel untuk jenjang karir setelah keluar dari sana.

Saya nggak nemuin ini di sini (event organizer). Saya nggak tau apa saya yang terlalu cepat mengambil kesimpulan apa enggak, tapi sejauh ini saya merasa di sini ya semuanya senada. Setiap ada proyek, pasti desain yang dibuat ya itu lagi itu lagi, nggak jauh dari poster, stage, invitation, kostum, backdrop, photo booth, sama paling konsep acaranya. Kalo saya terlalu lama di sini, saya takut kemampuan desain saya akan menjadi nggak berkembang. Dan hal paling terparno yang saya pikirkan adalah ketika interview berikutnya ditanya, "Kamu ngerjain apa aja disana? | Loh dalam waktu selama itu, kamu cuma ngerjain itu aja?" Duh.. keparnoan saya emang keterlaluan ya, padahal umur saya masih 20, masih ada banyak waktu untuk bereksplorasi, tapi kenapa saya maunya semua serba cepat dan as-soon-as-possible? Belum lagi saya kan masih kuliah ekstensi yang waktu kuliahnya seperti kelas karyawan, di hari Jumat malam dan Sabtu aja. Belum lagi skripsinya, kejar-kejaran sama dosen pembimbing.

Ada kalanya dalam hidup kita harus memilih, yang manakah yang harus didahulukan, ego atau realistis? Ikuti impian sekarang juga atau mengalah sebentar saja?

Saya pasti berkembang. Dalam waktu 8-9 bulan lagi, terima saya menjadi bagian dalam tim kalian, ya, kakak-kakak ahensi.

Bismillah.

Rizkitysha,
Calon Art Director.
15/12/2013.

Saturday, August 31, 2013

After Graduated

Di malam ini, tiba-tiba kuteringat pada slide yang telah kubuat pada saat semester 3. Saat itu tugas kami adalah membuat presentasi mengenai goals kami setelah lulus dari kampus perjuangan kami. Waktu itu dosenku bilang, kami semua harus percaya kalau satu persatu goals tersebut akan tercapai, dengan niat juga tentunya. Dengan penuh semangat dan tekad yang bulat, aku membuat presentasi tersebut.

Waktu terus bergulir. Tak terasa sudah dua tahun lalu aku membuat life goals tersebut. Hingga aku lupa mengenai isi presentasi tersebut. Namun jika diingat lebih jauh, ternyata satu persatu goals dalam hidupku akhirnya tercapai. Lulus sidang di usia 19 tahun udah masuk ke dalam daftar checklist. Cumlaude? Yeah, beruntungnya aku tidak terdaftar ke dalam mahasiswa jurusan yang sulit dapat nilai cumlaude. Tapi sungguh, predikat cumlaude tidak terlalu penting untuk mahasiswi lulusan desain grafis seperti aku ini. Ya jurusan kamu, kamu, dan kamu, asal universitas dan nilai IPK itu hal yang paling penting kan jika untuk melamar pekerjaan. Tapi jurusanku? HAHA terima kasih sama sama, agensi kreatif sama sekali tak membutuhkan latar pendidikan seperti itu. Terlebih dahulu mereka melihat hasil kerja kami, para lulusan desain grafis, sebelum memutuskan untuk menginterview kami. Terdengarnya curang, ya. Tapi ini justru fair, ketika bukan nilai yang dipertaruhkan, tapi kemampuanmu sendiri :)

Sebagai lulusan diploma yang baru saja berumur 20 tahun, ini sulit. Aku diharuskan untuk bertarung mendapatkan pekerjaan dengan orang-orang yang lebih senior. Sungguh, ini jauh sekali lebih sulit daripada mendapatkan sekolah negeri. Logikanya, namanya senior, portofolionya lebih banyak, dong. Lah ini fresh graduated, kasarnya, bisa apa, sih? Kenapa harus ambil yang fresh graduated kalo ada yang lebih kompeten?

Besok udah ganti bulan. Aku lulus sudah dari akhir Juli. Yaaa ternyata sudah sekitar sebulan aku seperti orang yang nggak punya occupation (kalo kata Friendster, situs terkeren di eranya). Ngeapply sana sini, nggak ada yang dipanggil. Padahal aku nggak cuma ngeapply ke ahensi kelas atas lho, tapi juga ada yang biasa-biasa aja. Nggak ngerti kenapa kok nggak ada panggilan. Apa portofolioku terlalu nista hingga mereka enggan untuk menolehnya? I dunno.

Salah satu teman di kampus seberang bercerita jika dia baru saja diterima magang di kantor incaranku sejak aku masih menjadi mahasiswa tingkat 2. Iri? Tentu saja. Meskipun hanya magang, dia bisa mencicipi rasanya bekerja di ahensi worldwide. Dan tahu apa? CV miliknya yang berhasil lolos di ahensi tersebut adalah CV hasil layout buatanku. Whew! Hasil karyaku dipertunjukkan disana dan lolos, lho... meskipun bukan dengan namaku :')

Waktu tahu temanku itu bisa berhasil lolos ke ahensi tersebut, kucoba untuk melihat sisi positifnya sampai kuabadikan lho di twitter. Kurang lebih twitnya begini, "Rejeki nggak akan salah alamat."

N U NO WAT, as I said before, rejeki-nggak-akan-salah-alamat itu terrealisasi padaku di waktu yang tepat. Masih berhubungan dengan twitter, siapa yang nyangka kalo hanya dengan mention, "Hai mbak, sini mahasiswi desain grafis. Baru aja lulus :3", akan ada keberuntungan yang berpihak padaku. Secara tiba-tiba, aku diminta datang ke kantor si mbak yang kumention itu tepat setelah twit itu dilayangkan. Lho, yang mention banyak lho, terus kenapa aku? I dunno, that's my luck. And another surprised, gedung kantor yang harus kudatangi sore itu adalah gedung yang sama dengan perusahaan yang pernah kukirimkan CV + portofolio sebelumnya. Dan ternyata mereka selantai. SATU LANTAI, hanya berbeda pintu. Ohmeeennnnn. Haruskah sesempit itu?

Singkat cerita, sudah dua minggu ini aku bekerja sebagai freelance graphic designer di kantor ini, MEC Indonesia, sebuah perusahaan yang bergerak pada bisnis media buying & media planning. Iseng googling, ketemu artikel dari wikipedia, ternyata kantor ini jauh dari kalimat kantor yang biasa-biasa aja. Potongan kalimatnya, "...is the world’s largest advertising media company in terms of billings". Ya, artiin sendiri lah maksudnya apa. Kantor ini pun juga berpartner sama advertising agency multinasional yang juga menjadi incaranku sejak lama. Hmm..

Bersyukur? Banget. Iri? Itu telah berlalu, kan. Biarpun hanya seorang freelancer, tapi aku bersyukuuuur banget. Siapa juga yang pernah nyangka kalo anak ingusan seperti aku bakal nyicipin meja kerja ahensi multinasional, meskipun hal ini terjadi karena lagi lagi, ada faktor luck yang tinggi. Dan jika diflashback ke presentasi semester 3 tersebut, tau nggak apa pekerjaan impian aku tepat setelah lulus kuliah? Jadi freelancer! Akhirnya hal ini terwujud setelah banyak angan lainnya melintas di pikiranku.

Untuk menjadikan goals dalam hidup ini pada sebuah kenyataan itu butuh proses. Ibarat bayi, nggak ada bayi yang langsung bisa berjalan, pasti merangkak dulu. Begitupun hidup kita. Pencapaian itu tidak datang secara bersamaan, melainkan satu persatu.

Aku nulis postingan ini nggak ada maksud sombong. Just for sharing, kok. Intinya, jangan takut bermimpi setinggi-tingginya. Kalo ada tekad yang bulat dan itu memang baik bagimu, Tuhan akan buka pintu rezekimu selebar-lebarnya. Dan jangan lupa, rezeki nggak akan salah alamat ;)

CHECKED!

Saturday, March 2, 2013

Ini Ceritaku, Tentang Jogja!



Kembali ke kota asalku, bukan lagi bersama keluarga melainkan bersama teman-teman seperjuangan benar-benar memberikan warna baru. Hal-hal yang semula hanya berupa ekspektasi untuk pergi bersama-sama dengan teman-teman seperjuangan dan satu visi denganku, terutama keluarga kecilku, ya kami, Degaduh (Desain Grafis A 2010), setelah adanya lampu hijau dari orangtuaku, kesempatan ini tidak akan kusia-siakan. Yang akan menjadi pendamping kami di dalam bis selama menuju kampung halamanku dan pulang dari kampung halamanku ialah Pak Eko Pranoto dan Pak Mamin Saputra. Selain itu di dalam bis kami juga ada mahasiswa dari grafika A pagi.

Pagi itu, 11 Februari 2013. Yang kuingat, semalamnya aku menghabiskan waktu untuk bergadang hingga tengah malam. Hingga saat berangkat menuju Depok dengan menaiki kereta commuter line yang pada pagi itu masih amat sepi, pikiranku nyaris kosong. Ya karena kurang tidur. Di pikiranku, toh nantinya bisa tidur kan? Lama lagi.

Tetapi ekspektasi bodoh tersebut sirna ketika aku mendapatkan teman duduk yaitu Nisfi. Tingkahnya sesama tolol sepertiku. Banyolan yang kukeluarkan lantas saja membuat kami terus terjaga sepanjang perjalanan. Ditambah lagi video dangdut yang ditampilkan oleh pak kondektur, dimana di videonya ditampilkan talent-talent yang posenya menggelikan, dan itu seakan minta diledek! Sungguh, video tersebut menjadi pokok ide bahan tertawaan kami. Padahal di kala itu, satu bis kami sudah pada terlelap dan hanyut di dalam mimpi masing-masing. Buat yang lagunya kami tertawakan, maaf ya. Temanku di jurusan lain yang sudah pernah melakukan studek pernah berkata kalau yang biasanya tidak mabuk saat perjalanan bisa saja mabuk, ya seperti dia itu. Agak merasa tertantang pas dia bilang begitu, masa sih aku akan mabuk? Selemah itu kamu, Lit?

Memang dasar ya kalau masuk ke dalam bisnya sudah terlambat, pasti dapat duduknya juga akan yang sisaan. Jreeng! Tinggal di depan tempat duduk kosongnya. Tidak sisa sih, hanya saja Rizka yang menyuruhku duduk di depannya. Dan aku baru tahu, kalau duduk di depan itu akan mengurangi potensi untuk mabuk karena dekat dengan kaca depan. Berarti aku tak akan jadi lemah kan? Tak perlu minum antimo-antimo-an kan? Hehe.

Perjalanan jauhku bersama keluargaku dengan mobil pribadi sebelum-sebelumnya terasa amat memuakan. Duduk bersama barang-barang, dengan jalanan yang berliku-liku, dengan tempat duduk sekecil itu, dan dengan jarak tempuh yang lama seakan menjadi kiamat kecil yang membuatku ngeri jika membayangkan perjalanan studek kali ini. Lima jam perjalanan pertama, aku masih menikmati perjalanan tersebut. Aku nikmati pemandangan alam.. ya termasuk juga, berbagai media publikasi dari para calon gubernur Jawa Barat. Ini sisi uniknya. Ketika telah keluar dari kota Jakarta, terasa sekali perbedaan kulturnya. Masa iya, ada kafe dan tempat karaoke beberapa rumah sekali? Dan tempat karaokenya hanya berupa rumah sangat sederhana, beda sama di Jakarta yang didesain semaksimal mungkin untuk menarik perhatian pengunjung, dan jaraknya agak saling berjauhan. Aku sama Nisfi sudah berpikir yang aneh-aneh. Pasti di tempat tersebut ada plus-plusnya. Hahaha.

Terus, sepanjang jalan di Jawa Barat itu, aku sulit sekali menemukan media promosi yang 'eye-catching'. Mungkin karena lagi melewati daerah perkampungan kali, ya? Sekalinya ada digital printing, rasanya mau murkai si pemiliknya. Kalau kata anak sekarang, "Ih alay banget sih.". Secara, desainnya itu pakai warna yang kontras dan tak enak dilihat. Padahal aku sudah berharap banyak pada digital printing tersebut, tapi ya sudahlah. Biarpun kukata media promosinya kurang 'eye catching', tapi ada hal kecil namun besar yang menarik perhatianku, apalagi kalau bukan banner-banner kecil yang dipasang di tiang-tiang sepanjang jalan. Banner bergambar tiap kandidat gubernur Jawa Barat menghiasi jalanan Jawa Barat yang amat panjang itu. Desainnya pun beragam, ada yang menurutku 'nggak banget', ada juga yang sudah sesuai standar desain yang sering kutemui di Jakarta. Pikirku, mungkin mereka tidak meminta bantuan desain sama desainer grafis.

Ketika tiba waktunya tengah hari, kami beristirahat di sebuah tempat makan yang bernama Pringsewu! Lho, ini bukannya ada dimana-mana ya? Saat kupergi ke Solo dulu dengan jalur darat, banyak petunjuk-petunjuk tentang Pringsewu berapa meter lagi. Tapi ketika sudah sampai di meter yang ditunjukan, aku tidak melihat apa-apa. Mungkin waktu itu sedang tidak beruntung. Dan akhirnya sekarang rasa penasaranku terjawab. Akhirnya makan di Pringsewu. Menu makanan kami kala itu prasmanan. Ekspektasiku itu, makan prasmanan sama dengan bisa ambil porsi seenaknya, seperti di hotel bintang lima, dan menunya pun beragam. Ternyata tidak! Menu yang ditawarkan telah disesuaikan dengan budget kami dan untuk menu ayam sudah dibatasi oleh pelayan.

Ada yang unik dari Pringsewu. Pihak rumah makan ternyata sudah mensiasati cara penjualan mereka dengan menspesialkan para pengunjung yang berulang tahun di bulan itu. Kala itu bulan Februari, sehingga Ela dan Nisfi mendapatkan sebuah kejutan ulang tahun yaitu permainan orkes angklung bermusikan 'Happy Birthday' yang lantas saja menarik perhatian kami semua. Selain itu, mereka mendapatkan menu tambahan yaitu jus buah sebagai tanda hadiah ulang tahun.

Setelah melakukan ishoma di Pringsewu, kami melanjutkan perjalanan. Mulanya aku ingin melanjutkan tidurku yang tertunda, namun ketika telah keluar dari wilayah Jawa Barat dan menuju Jawa Tengah, suasana horor pun menghantui. Tunggu dulu, tidak ada kuntilanak atau pocong atau tuyul atau segala setan yang menjadi mitos negeri ini, hapus semua pikiran tersebut. Hujan yang lebat, saat menengok ke kiri atau kanan pun yang terlihat adalah sawah-sawah, dan ketika melihat ke depan.. Ups! Ini sensasinya keluar kota melalui jalur darat! Jalan-jalannya berlubang. Lubangnya tidak sekadar lubang, tapi dalam, dalam, dan cukup dalam. Aku yang notabenenya duduk di atas ban dan di dekat jendela ini merasakan kalau degupan jantungku terasa lebih cepat. Bayanganku sudah amat mengerikan. Dimana ketika pak supir tidak bisa menghindari lubang-lubang tersebut dan bis kami jatuh ke area sawah. Hii, naudzubillahibindzalik! Pikiran parnoku terus menghantui dan akhirnya aku memutuskan untuk menidurkan tempat dudukku ke belakang. Ternyata Yunita yang duduk di belakangku juga sama takutnya denganku.

Alhamdulillah menjelang maghrib, kami berhasil melewati jalan-jalan menyeramkan itu. Ada yang seru dari perjalanan studek kali ini. Di dalam bis, ternyata panitia telah menyiapkan kuis yang ada doorprizenya untuk kami. Untuk mendapatkan hadiah tersebut, kami harus mengikuti kuis gombal-gombalan. Kuis ini dimulai dari anak laki-laki yang menggombali anak perempuannya. Kudengar seru sekali permainan itu, maka aku memutuskan untuk turut serta dalam permainan tersebut. Iseng-iseng untuk melatih kemampuan bermain kata dan juga wawasan. Seusaiku menggombali salah satu anak kelasku, keriuhan terdengar dari tiap sudut di bis kami. Mereka nampak bahagia dan aku terus berpikir, "Tadi aku ngomong apa...".

Singkat cerita, permainan tersebut berakhir ketika kami tiba di Pringsewu cabang lainnya untuk melakukan shalat maghrib dan makan malam. Seusai makan, kami melanjutkan kembali perjalanan menuju kota Jogjakarta. Suasana sudah sangat gelap dan kucoba untuk tertidur. Namun tetap, tidurku tak akan pernah lelap sebelum kami tiba di Edu Hostel, tempat kami menginap selama di Jogja. Mamaku terus saja mengirimiku pesan singkat untuk mengetahui dimana letak keberadaanku. Hingga akhirnya kami tiba di Edu Hostel pukul 23:30 dan segera kukabari mamaku. Akhirnya mamaku memutuskan untuk tidur. Tumben sekali, padahal biasanya beliau sudah tidur sedari pukul 20:00, namun karena ingin terus berkabar denganku, beliau menunda tidurnya untuk hari itu. Manis ya.

Sesampainya di hostel, aku segera bergegas ke kamar bersama wanita-wanita cantik ini. Aku sekamar dengan Rizka, Yunita, Nisfi, dan Ayudhia. Hostel ini benar-benar hostel yang cocok untuk para backpacker dan mahasiswa. Jreng! Tempat tidurnya bertingkat! Aku tak kuat lagi kalau harus berpindah tidur ke kasur atas. Selain karena sudah lelah, aku yang culun ini tidak berani untuk memanjat ke atas. Mamaku juga berpesan untuk tidak tidur di kasur atas. Untungnya ada yang mau mengalah untuk tidur di atas hihi. Memang dasar gadis, kalau disatukan ke dalam satu kamar, pasti tak akan langsung tidur. Ada saja cerita-cerita menjelang tidur. Belum lagi grup whatsapp kelasku yang masih saja bersiul. Ketika kutanya kamar lain, mereka pukul 1 pagi sudah terlelap, tapi kamar kami, jam 2 pagi saja belum semua terlelap. Padahal kami harus menyimpan amunisi untuk esok hari.

Hari kedua, 12 Februari 2013. Benar saja, aku yang baru saja tidur pukul setengah tiga pagi langsung merasa kaget ketika pukul lima lewatnya harus sudah kembali bangun. Aku yang tidak terlelap di dalam bis dan hanya memiliki tiga jam untuk tidur di hostel jadi hanya memiliki sedikit pasokan energi. Benar kata orang, kalau kurang tidur pasti bawaannya akan cepat emosi. Hal itupun terjadi padaku. Aku menjadi lebih sensitif. Sudah kuperingati teman-temanku, kalau hari itu aku sangat sensitif, itu akibat kurangnya istirahat.

Destinasi pertama kami.. Yuk mari ke UGD! Apa itu UGD? Ini Unit Gawat Dagadu! Letaknya di jalan Ikip PGRI no. 50 Sonopakis, Jogjakarta. Nama Dagadu bukan lagi nama yang asing di telingaku. Seingatku Dagadu ialah yang desain kaosnya selalu dilengkapi dengan kata-kata nyeleneh. Tapi ternyata tidak terlalu nyeleneh. Yang sangat nyeleneh itu adalah Joger dari Bali.

Kami datang pagi sekali, sekitar jam sembilan kurang kami sudah tiba disana. Jadilah kami menunggu setengah jam untuk diberikan arahan mengenai Dagadu. Dari kaca luar, UGD terlihat eyecatching dengan desainnya yang kekinian, baik desain kaosnya maupun desain tokonya. Jam setengah sepuluh, kami diizinkan masuk dan mengunjungi setiap sudut UGD. Ternyata setiap ruangan UGD yang saling berhubungan ini memiliki tema yang berbeda-beda antara satu ruangan dengan ruangan yang lainnya. Misalnya saja, ruangan pertama bernama Hiruk Pikuk, dimana kaos dan barang lain yang dijual di ruangan itu lebih mengedepankan tempat-tempat wisata di Jogja. Ruangan kedua namanya.. aku lupa namanya. Yang kuingat di ruangan ini dicat hitam dan putih dan kaos yang dijual bertuliskan tulisan-tulisan deskripsi suatu hal. Ternyata hal-hal tersebut diilhami dari konsep jadul. Maka itu suasananya dibuat seperti itu. Dagadu tidak melulu menjual kaos. Banyak barang-barang lucu lainnya yang dikemas dengan kemasan yang menarik. Misalnya saja bakpia mini yang dikemas di dalam sebuah kardus kotak warna warni seperti dadu. Ini benar-benar menarik perhatian pengunjung dan aku hampir saja membelinya. Namun niat itu kuurungkan karena aku menemukan barang-barang yang lebih lucu yaitu kartu remi versi Dagadu. Dahulu, aku sempat ingin membuat kartu remi dengan desain yang akan kubuat sendiri dan ingin kuberikan kepada tempatku melakukan praktik industri dahulu. Tetapi karena waktu yang tak memungkinkan, aku tidak jadi membuat desain kartu tersebut. Dengan pembelian kartu remi versi Dagadu, kuharap aku bisa mendapatkan inspirasi desain. Hampir semua barang yang dijual di Dagadu adalah barang-barang yang berhubungan dengan kota Jogjakarta. Saat berjalan-jalan kesini, aku seakan sedang mengakhiri pameran tugas akhir desain grafis. Semua terkonsep dan penuh desain.

Ruangan lainnya, Ruang Narsis. Ruang ini merupakan ruangan yang paling kuingat. Ada becak, latar merah yang menarik, rambu-rambu, dan tak lupa, logo Dagadu. Selain karena letaknya yang ada di depan, ruangan ini memang dikhususkan kepada orang-orang yang suka berfoto-foto. Oleh karena itu, pihak Dagadu menyediakan fasilitas untuk berfoto-foto. Selain itu ini juga cara yang ditempuh Dagadu untuk mempromosikan merk Dagadu secara tidak langsung.

Dagadu memiliki lokasi penjualan lainnya, yaitu Posyandu (Pos Pelayanan Dagadu) yang terletak di Malioboro Mall dan Alun-Alun Utara Yogyakarta, UGD yang sedang kami kunjungi, dan DPRD (Djawatan Pelajanan Resmi Dagadu) di dalam Ambarukmo Plaza.

Seusai kunjungan kami ke Unit Gawat Dagadu, kami bersiap menuju salah satu kampus seni terkenal di Indonesia, yaitu Institut Seni Indonesia. Kami melakukan kunjungan kesana setelah waktunya shalat Dzuhur. Kami makan siang di dalam bis dan shalat di masjid ISI. Suasananya terlihat sepi. Jarang aktivitas yang ditemukan disini. Ternyata hal ini disebabkan oleh masih liburnya mahasiswa ISI. Pantas saja.

Kami begitu mencolok dengan almamater kami tercinta yang berwarna kuning itu. Beberapa mahasiswa ISI yang berada di kampus terus saja melihat ke arah kami. Kami beralih ke dalam kampus Disain Komunikasi Visual. Disana kami disambut oleh ketua jurusan DKV dan dipersilakan masuk ke dalam aula. Sebelum masuk ke dalam aula, aku tercengang dengan interior kampus ini. Biasa sih, masih lebih bagus TGPku, lebih bersih TGPku. Namun yang membuat kutercengang adalah... ini yang benar-benar kampus desain! Kutemukan di bawah tangga lantai 2 menuju lantai 1 lukisan-lukisan mahasiswa ISI. Belum lagi di temboknya. Nyeni banget, istilahnya. Tembok-tembok secara tidak langsung berbicara kalau ini memanglah kampus seni, memang harus begini, agar tidak terlihat seperti kampus mati. Setelah masuk ke dalam aula, kami dijelaskan mengenai sejarah ISI, portfolio mahasiswa ISI, dan segala hal yang menyangkut tentang ISI. Karena teman-temanku meminta untuk ditampilkan karya tugas akhir yang telah dibuat oleh mahasiswa ISI pada tahun sebelumnya, sang kajur memperlihatkan karya yang telah diminta. Namun ternyata diluar ekspektasi. Kalau yang diinginkan oleh teman-teman ialah karya print-adnya, yang diperlihatkan sang kajur ialah hasil animasi dan video. Meskipun namanya sama-sama tugas akhir, namun ternyata ada perbedaan antara tugas akhir milik D3 dan S1. Mahasiswa S1 dibebaskan untuk memilih print-ad atau animasi sebagai tugas akhir mereka. Menurutku, karya animasi mereka dapat diacungi jempol. Selain itu, saya yakin mereka akan dengan mudah dapat pekerjaan setelah lulus dari kampus karena karyanya yang baik.

Setelah melakukan negosiasi, akhirnya kami dibawa ke lantai 2 untuk melihat pameran print-ad mahasiswa ISI dari tingkat berapapun. Inilah yang disebut pembelajaran, tak semua karya yang ditampilkan dapat langsung membuatku tercengang. Entah kenapa dari dulu aku berpikir kalau kampusku yang masih berakreditasi B akan punya karya paling parah, tapi ternyata setelah kunjungan ini, aku baru memahami yang namanya proses. Toh sebelum kampus lain melakukan pameran tugas akhirnya di luar kampus, tidak mungkin hasil desainnya langsung serta merta sebagus itu. Karya-karya yang ditampilkan di lantai 2 beragam. Saat masuk ke lantai 2, aku sudah dibombardir dengan banner-banner yang berisi suatu campaign. Dan setelah masuk ke dalam ruangan, ada banyak karya yang ditampilkan. Mulai dari nirmana trimatra, gambar manual, buku yang telah disertai dengan ilustrasi, berbagai poster, dan lain-lain.

Kunjungan Industri ke ISI pun selesai. Rencana berikutnya seharusnya berkunjung ke panti asuhan. Namun karena waktu dan cuaca yang tidak memungkinkan, kami dikembalikan lagi ke hostel. Sepanjang perjalanan pulang, aku dan Nisfi membicarakan tentang tema tugas akhir yang akan kami ambil nantinya. Setiap membicarakan tugas akhir, mukaku akan pucat pasi dan kepalaku akan terasa pening. Tugas akhir menjadi salah satu kalimat termenyeramkan di akhir-akhir ini. Sesampainya di hostel, kami sudah dapat beristirahat lagi di kamar dan akan keluar lagi untuk city tour ke Malioboro pada pukul setengah 7 malam. Ini adalah salah satu jadwal yang kutunggu-tunggu karena ini waktunya menikmati kota Jogjakarta.

Diluar dugaan, ternyata hujan dari sore itu tidak kunjung berhenti. Hal ini akan menambah kesenduan kota Jogjakarta, ditambah lagi kami harus melintasi jalanan panjang Malioboro. Kami melintasi jalanan Malioboro dengan berpayung-payungan ria. Malioboro edisi pertama ini menjadi masa Degaduh berpencar. Beberapa kelompok Degaduh terbagi disini. Mereka sibuk masing-masing dengan buah tangan yang akan dibawanya ke Jakarta nanti. Suasana Malioboro kala itu sangat ramai. Padahal hari itu ialah hari Rabu, dimana hari tersebut merupakan hari kerja. Bagaimana kabarnya hari Sabtu dan Minggu? Mungkin Malioboro lumpuh total, ya. Disini, aku tidak belanja banyak. Disamping karena suasana begitu ramai hingga aku takkan fokus berbelanja, aku juga masih berpikir-pikir untuk belanja banyak. Dan ternyata ketika aku kembali ke bis dengan belanjaanku yang mini itu, anak-anak lain berbelanja banyak. B-A-N-Y-A-K! Lagi, ekspektasiku salah lagi. Aku langsung merasa menyesal dan terpuruk. Hiperbola.

Bulan pun berganti mentari. Sebelum menuju destinasi pertama di hari ketiga, 13 Februari 2013, kami menyempatkan diri terlebih dahulu untuk berkunjung ke gerai Bakpia Pathok 25. Jaraknya tidak terlalu jauh dari hostel. Disana kami membeli oleh-oleh orang terkasih yang telah menunggu kami di Jakarta. Aku hanya membeli tiga kotak bakpia. Dua kotak bakpia rasa keju dan satu lagi rasa kumbu hitam. Mamaku memang meminta untuk dibelikan bakpia rasa kumbu hitam. Dan aku baru saja tahu kalau kumbu hitam ialah kacang merah. Harganya pun lebih mahal daripada rasa lainnya. Sebenarnya harga per kotaknya sama saja, yaitu dua puluh lima ribu rupiah, hanya saja untuk sekotak bakpia rasa kumbu hitam, isinya lebih sedikit.

Seusai berbelanja di gerai Bakpia Pathok 25, kami melanjutkan perjalanan ke Kelompok Batik Tulis Giriloyo di wilayah Imogiri, Jogjakarta. Perjalanannya cukup jauh, melintasi persawahan dan perladangan. Untuk kunjungan yang satu ini, semua jurusan di TGP dijadikan satu kunjungan. Hal ini untuk mempererat persaudaraan antara desain grafis, teknik grafika, dan penerbitan. Sudah cukup siang kami tiba disana. Tempat kelompok batik tulis ini cukup nyaman dan asri karena terletak di desa dan berupa saung-saung kecil, dimana di saung tersebut merupakan tempat ibu-ibu untuk mengerjakan karya batik tulisnya. Harga batik tulis tentunya akan lebih mahal dari batik cap, karena batik cap tidak membutuhkan banyak waktu untuk pengerjaannya. Kelompok Batik Tulis Giriloyo hanya mengerjakan batik tulis.

Sebelum membatik, terlebih dahulu kami diberi pengarahan. Kami melukis batik dengan canting dan juga lilin (malam) di atas sebuah kain putih. Lukisan mengikuti pola yang telah digambar dengan menggunakan pensil. Seringkali kumenghancurkan hasil karya batik yang telah kubuat hari itu dengan tidak rapinya mencanting dengan malam. Padahal dulu aku pernah pergi ke museum batik pada saat SMA dan juga diajari tentang cara membatik. Ini memalukan.

Setelah pola yang sudah ditimpa dengan malam selesai, kain akan dicuci oleh ibu-ibu dari kelompok batik tulis ini. Ini untuk menghilangkan malam yang terlalu tebal. Setelah itu, kain diwarnai dengan pewarna tekstil. Caranya dengan merendam kain tersebut ke dalam air bercampur pewarna tekstil yang telah disiapkan. Pada proses tersebut, lama kelamaan malam yang tadi telah dioleskan akan hilang. Proses pewarnaan kain selesai, saatnya penjemuran. Ketika sudah kering, jadilah kain batik pertama kami, Margin 2010.

Saksi bisu kebersamaan kami berikutnya ialah Candi Prambanan. Sudah turun tetesan-tetesan air dari langit. Yang awalnya pelan-pelan, lama-lama menjadi lebih lebat. Ya, itulah hujan. Kami berhujan-hujanan, satu angkatan, satu basah, semua basah. Ini salah satu momen yang kusuka, ketika kita semua di dalam satu bingkai, Margin 2010, dibawah langit yang gulita, di depan candi peninggalan yang terdahulu, dan tanpa ada salah satu prodi yang tertinggal seperti biasa-biasanya.

Hal lainnya yang tidak akan terlupa dari Prambanan ialah harganya yang jauh lebih murah daripada Malioboro. Disini akhirnya aku bisa melampiaskan dendam belanjaku yang kemarin. Dengan waktu yang singkat dan harga yang lebih bersahabat dengan kantong, aku bisa mendapatkan beberapa item, setidaknya untuk orang-orang satu rumahku.

"Masih seperti dulu, Tiap sudut menyapaku bersahabat, Penuh selaksa makna..." Sebuah potongan tembang dari Kla Project bukan lagi sebagai omong kosong. Memang begitu kenyataannya. Sepanjang jalan Malioboro, para tukang becak menyapa kami yang terlihat jalan bergerombol. Kalau tidak salah mereka bilang, "Bakpia, Dagadu, Keraton, lima ribu." Bahkan ada yang menawarkan hanya dengan tiga ribu rupiah. Hah? Tiga ribu? Bagaimana bisa? Bahkan di Jakarta, sulit sekali kutemukan tukang bajaj yang rela ditawar hingga lima ribu rupiah. Lha ini, belum ditawar saja sudah berani menawarkan sampai sebegitu rendahnya. Persaingan rezeki sebagai tukang becak di Malioboro memang sangat ketat. Sepanjang jalan ada becak. Sesekali delman mendahului jalan kami. Aku adalah orang yang berpikir, bagaimana bisa dia menawarkan serendah itu? Bukannya harga makanan di Jogja hampir sama dengan Jakarta?

Beralih dari pembicaraan becak, di akhir jalan-jalanku ke Jogja bersama Degaduh itu aku ingin sekali menghabiskan waktu bersama anak-anak kelasku. Aku tidak ingin terpisah kembali seperti kemarinnya. Aku ingin membiarkanku berjalan dengan langkah yang sama bersama mereka, di depan hingar bingar Malioboro, berjalan melewati genangan air yang menggenangi jalanan, dan di bawah lampu kota yang temaram. Santap malam di angkringan, meneguk kopi yang telah dicampur dengan arang, duduk di trotoar beralaskan tikar sambil bersenda gurau akan menjadi momen kenangan yang tak akan pernah terlupa di masa kuliah diplomaku, di kota asalku. Ya sebelum kami semua sibuk sendiri-sendiri dengan masa depan kami masing-masing..

Perjalanan pulang dari Malioboro menuju Jakarta pun juga menjadi sebuah perjalanan yang dapat dirindukan. Kami tiba di bis terlebih dahulu kemudian kami melanjutkan kembali permainan UNO yang terpaksa tertunda karena datangnya liquid-liquid dari langit. Peraturan main UNO terbodoh hanya kudapatkan di dalam Degaduh. Tidak boleh terlihatnya gigi dan tidak boleh adanya pertanyaan dalam permainan menambah riuh suasana permainan kami. Belum lagi hukuman bagi yang kalah untuk tetap berdiri sampai permainan selesai. Padahal sulit sekali lho untuk tetap berdiri stabil di dalam bis yang sedang berada di jalan yang penuh liukan. Hal konyol lainnya adalah ketika pukul setengah 3 pagi anak laki-laki memaksakan diri untuk menonton bola melalui hp Adit yang ada antenanya, tapi karena kami benar-benar sedang melintasi pedesaan, maka siaran itu benar-benar hilang dan akhirnya mereka memutuskan untuk tertidur kembali.

Begitulah ceritaku tentang Jogja, kampung halamanku. Kami melesat di bumi Depok dengan sempurna pada pukul 14:30. Tak ada sesal yang kurasa sepulang studek. Terima kasih Degaduh, terima kasih Margin 2010, terima kasih TGP :)

Jakarta, 2 Maret 2013
Talita Leoni Rizkitysha

Monday, February 18, 2013

GombalGembel

Sudah beberapa bulan terakhir ini saya punya hobi baru. Hobi yang biasanya dikerjakan oleh kaum Adam dalam merayu kaum Hawa, yaitu gombal. Kalo kata KBBI sih gombal itu artinya omong kosong atau omongan yang tidak benar. Tapi gombal itu nggak selalu-selalu-selalu buat omong kosong, terkadang beneran kok, cuma kata 'hahaha' selalu diletakan setelahnya. Di realitanya, kalo mau liat yang gombalannya beneran tulus dan nggak dibuat-buat itu.... ya liat aja sorotan matanya. Mata nggak bisa boong, kan? :)

Tiap orang punya cara yang berbeda dalam menghadapi serangan gombalan. Selama saya menjalani hobi ini, beragam respon saya terima. Mulai dari ngegombalin balik, kegirangan, malu-malu, salah tingkah, atau malah pahitnya, langsung bilang, "Najis.". But never mind! Respon orang memang berbeda, tapi selama masih ada yang terhibur, kenapa harus memikirkan yang 'keganggu'? :)

Tujuan gombal apa sih? Ya cuma untuk bercanda aja kok. Buat mencairkan suasana yang udah kaku kayak kanebo kering. Inspirasi gombal pertama kali itu didapat dari lawakan, "Bapak kamu....." yang biasa kita lihat di salah satu televisi swasta. Sungguh, menurut saya orang yang suka menggombal itu pintar lho, asalkan gombalan mereka nggak mengandung SARA atau nyerempet-nyerempet ke fisik. Orang yang suka bercanda dengan melemparkan gombalan-gombalan itu bisaaa aja merangkai kata-kata dalam waktu yang sangat cepat, spontanitas tanpa skrip! Terlebih kalau yang mendengar bercandaannya itu bisa tertawa, karena emang lucu dan berbobot. Kasih nilai plus plus deh!

Kalo saya udah skakmat karena nggak bisa gombalin balik, biasanya kata yang sering saya keluarkan itu, "Aaaa ga kuat :')". Setidaknya kalimat itu masih lebih bikin orang yang ngegombalin merasa dihargai dibanding, "Terus gue harus bilang wooow, getttoooh?". Aduh pelis itu abegeh banget. Pernah tau kan rasanya pengen ngelelepin orang ke dasar laut? :))

Yuk, jangan cemberut terus. Angkat kedua ujung mulutnya ke atas. Senyum!

Saturday, February 2, 2013

The Pra-Internship Story

Nampaknya sudah cukup lama aku tidak mengetikan huruf demi huruf, kata demi kata, hingga membentuk kalimat-kalimat yang bahkan aku tak tahu itu puitis atau hanya sekedar kalimat curhatan ecek-ecek yang kuposting dalam catatan harian online ini. Postingan terakhir terkirim pada bulan Juni tahun 2012 dan sekarang tahun pun telah berubah menjadi 2013. Bukan bermaksud sok sibuk, namun untuk mengumpulkan mood untuk mengisi catatan harian online itu sulit. Kalo bahasanya anak gaul, skip deh.

Selama renggang waktu Juni 2012 hingga sekarang, Januari 2013, aku disibukan dengan kesibukan berbeda dengan postinganku sebelumnya. Seperti yang telah kita ketahui, mahasiswa D3 memiliki jangka waktu kuliah yang lebih pendek daripada mahasiswa S1, jadi ketika mahasiswa S1 punya masa semester 5 yang duduk manis dengan tenang di bangku perkuliahan, mahasiswa D3 (khususnya jurusanku) sudah mulai disibukan dengan kegiatan PI (Praktik Industri). Kalo yang lainnya (mayoritas) pas liburan semester 4 (Juni 2012) lagi menikmati masa liburannya, tak akan kuulangi perbuatan bodohku dengan membuang-buang waktu di rumah seperti liburan-liburan sebelumnya.

Magang! Biar bagaimanapun caranya, aku harus magang di liburan semester 4. Singkat cerita, aku coba untuk magang di sebuah agensi desain di kawasan Kebon Baru, Jakarta Selatan. Satu bulan kuhabiskan waktu disana bersama Nisfi, teman sekelasku. Saat kami magang berdua disana, kami selalu sibuk dengan cerita kami, hingga kami lupa untuk bersosialisasi dengan orang lain disana. Kupikir hal ini terjadi karena kami disini magang berdua, oleh karena itu, di magang-magang berikutnya kami akan berpisah, sendiri-sendiri, agar kami berkembang.

Seselesainya magang di agensi tersebut, aku disibukan dengan aktivitas Sosjur (Sosialisasi Jurusan). Disana aku yang sebenarnya belum begitu dewasa pura-pura menjadi Komdis (Komisi Disiplin), dimana tugas komdis adalah menegur kesalahan-kesalahan para mahasiswa baru saat ospek. Seru lho, pasang tampak terjutek terus sambil melotot hihihi.

Sosjur selesai, masuklah kuliah semester 5 yang hanya satu bulanan itu. Sekitar bulan Oktober aku sudah mengikuti masa UAS disaat yang lainnya masih UTS. Pelajaran tiga mata kuliah di semester 5 dipadatkan menjadi setengah semester saja. Setelah itu waktunya praktik industri. Disaat masa kuliah semester 5, aku merasa jiwaku sudah tidak lagi di kampus. Hanya praktik industri yang ada di pikiranku. Mempelajari hal baru, masuk ke agensi periklanan, itu impianku, banget! Kuliah semester 5 seakan hanya lewat begitu saja. Setiap harinya aku mencari agensi mana yang akan dengan rela menampung anak magang. Mempercantik CV, mengumpulkan dan merapikan portfolio, semua sudah kustrategikan sebelum yang lainnya memikirkan hal ini. Di otakku hanyalah, "Pokoknya tanggal 1 November harus udah mulai magang, gimanapun caranya. Nggak boleh telat. Harus sampai 3 bulan."

Telepon sana sini serta menyebar CV dan portfolio ke beberapa agensi periklanan sudah menjadi mainanku sedari awal Oktober. Delapan nama agensi kukirimkan, namun hingga H-2 minggu tak ada yang kunjung memanggilku untuk diinterview. Belum lagi ketika mendengar beberapa temanku yang baru mengirimkan CV kemudian esoknya langsung dipanggil interview. Kacau balau pikiranku. Tak ingat lagi sudah berapa mililiter air mata yang menetes dari mataku. Terus kuberpikir, mengapa sesulit ini? Apa portfolioku sungguh tidak menarik perhatian agensi-agensi tersebut? Dosa besar apa yang telah kuperbuat hingga sefatal ini?

Hari itu, Senin 15 Oktober 2012, aku bercerita kepada kedua orangtuaku. Hingga kumeminta didoakan oleh mamaku. Mama bilang kalau tanpa kuminta juga beliau pasti akan selalu mendoakan. Semakin mengalir deras ketika ibunda berkata seperti itu. Dan papa bilang, "Coba, kamu udah amal belum? Kalo kamu belum amal juga doa mama bakal macet di kamu". DEG! Jadi kapan ya terakhir kuberamal?

16 Oktober 2012, pagi itu aku merenung lagi. Di kereta ekonomi tujuan Bogor, seorang tua renta lewat didepanku. Aku tidak ingat betul bagaimana bentuk orang tersebut, yang jelas aku ingat kata papa, jangan lupa beramal. Hap! Kumasukan uang recehku ke dalam kantongnya. Kalau tidak salah, yang meminta ialah bapak-bapak tua (yang maaf, cacat) yang membagikan tabel seperti amplop untuk pembangunan masjid, dan ketika telah ada yang beramal, dia akan mendoakan kita. Aku tak terlalu memikirkan hal itu kemudian.

Jarum jam terus bergulir. Siang harinya aku bergegas pergi ke rumah eyang untuk membantunya membereskan proyek bukunya. Ingat betul waktu itu kereta ekonomi jam 1. Kereta yang lumayan penuh penumpangnya. Kemudian ketika sudah di Pasar Minggu, aku mendapatkan tempat duduk, kulihat hpku terus bergetar. Kupikir panggilan interview, ternyata teman sekelasku.

Siang itu panas amat terik. Untuk pergi ke rumah eyangku, aku membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk menunggu Kopaja. Tidak ada pohon rindang untuk berlindung, karena di stasiun Tebet sangat penuh dengan tukang ojek. Seturunnya dari Kopaja, aku harus berjalan lagi menuju rumah eyangku. Sungguh terasa cobaan hari itu.

Sesampainya di rumah eyang, aku meminjam telepon untuk menghubungi agensi yang terakhir sekali kukirimkan CVku dengan maksud melaporkan kalau CV telah kukirimkan. Baru saja tersambung dengan HRD, tiba-tiba hpku memberikan notifikasi kalau ada panggilan dari nomor yang tidak kusimpan di hpku. Sontak bingung memegang dua telepon dalam satu waktu, maka kumeminta izin untuk mematikan telepon dengan HRD tersebut.

Dan hey! Ketika kuangkat, ini nomor telepon dari salah satu agensi yang benar-benar kufollow up, salah satu agensi yang kuletakan harapan. Ternyata apaaaa? Ini panggilan interview! Kenapa aku? Kenapa aku yang dipanggil? Padahal pada 15 Oktober 2012, dikatakan bahwa cukup banyak yang mengirim CV kesini dan kuota anak magang yang dibutuhkan hanya 1. Ketika mendengar kalimat tersebut, aku langsung mundur dan bergegas mencari agensi lainnya. Dan pada 16 Oktober 2012, Talita Leoni Rizkitysha berhasil dipanggil interview. Baru diinterview lho padahal. Masih ada saingan empat orang lagi untuk mendapatkan dua posisi magang lho padahal. Tapi gimana ya.. Langsung diijabah gitu doanya. The Power of Amal itu yang kayak begini, ya? :')

Singkat cerita, interview berlangsung di hari Jumat, 20 Oktober 2012. Untuk menuju agensi satu ini, butuh waktu untuk tersasar. Ketika tiba disini, terserah deh mau dibilang norak apa gimana, tapi-kantor-ini-keren-banget-pake-T. Interiornya bener-bener beda dari agensi tempat magangku sebelumnya. Ada kolam renangnya. Penuh dengan kaca-kaca. iMac semua. Wuiiiih. Fix norak.
Interview berlangsung di Virtual Room. Ah terlalu banyak ekspektasi, virtual room bukan seperti ruang angkasa. Di dalam sana sudah menunggu dua lelaki yang akan menjadi interviewerku. Nggak ada tampang Indonesia sama sekali. Yang satu agak kebule-bulean bermata sipit, yang satu lagi terlihat seperti benar-benar turunan Tionghoa. Wow. Nama mereka ialah Jhon dan Eric. Makin malu-maluin deh aku ini, udah bawa printilan portfolio seukuran A3 dibungkus plastik dan tas parasut yang bisa dilipat, yang bahkan sebelum berangkat dibilang sama dosenku seperti mau jualan. Dikritik habis-habisan sama dosenku. Minder semakin-makin.
Ada beberapa pertanyaan yang mereka ajukan padaku. Dan salah satu hal bodoh yang aku tanya pas disuruh mengajukan pertanyaan pada interviewer itu aku nanya, "Ini angkutan yang lewat sini apa aja ya?" Bener, ini bener-bener pertanyaan yang nggak kece. Ketahuan ngeteng. Segala menjelaskan sejarah kampusku, Politeknik Negeri Jakarta, lagi. Itu bener-bener nggak penting. Pertanyaan-pertanyaan bodohku ini membuat hari libur weekendku menjadi galau, dimana seperti yang dijanjikan, pengumuman interview itu hari Seninnya, 22 Oktober 2012. Kenapa sebodoh itu sih sampai menjelaskan asal-usul PNJ, memang mereka peduli? -_-

Hari pertama UAS, Senin, 22 Oktober 2012, saat selesai UAS. Di kala itu, aku sedang story telling dengan teman-teman sekelasku tentang segala kebodohanku saat interview. Mereka mengelilingiku dan menyarankan untuk tetap memperhatikan ponselku. Baru aja diberi kritikan itu, hpku berbunyi. Aku segera ke pojok kelas, mundur dari hadapan teman-temanku, dan mengangkat telepon tersebut. Kabar baik, aku lolos interview. Muka yang tadinya tegang menjadi sedikit lebih tenang. Another problems, pas ditanya, "Kamu bisa nggak kalau harus pegang proyek dan pulangnya jadi agak lebih malem?". D I L E M A.

Friday, June 1, 2012

Tribute to Our Lecturepreneur

Serius, baru aja tadi pagi bikin postingan tentang komentar saya dan teman-teman sekelas saya untuk dosen tercinta, eh beberapa jam yang lalu langsung ada notifikasi kalo komentar saya untuk dosen (yang satu perusahaan dengan dosen saya yang saya ceritakan di postingan sebelumnya) diupload juga ke jejaring sosial, ehem, sebut saja Facebook :p Cekidot gan!


Oke, seperti biasa, punyaku yang dikotakin merah. Ya komennya nggak bisa segila buat dosenku yang satu lagi, soalnya mereka berbeda keyakinan, eh.. berbeda karakter maksudnya. Jadi biarpun lucu unyu unyu tapi masih di batas kewajaran hahaha.

Then... ada sesuatu yang bikin aku senyum-senyum kalo liat gambar ini. Ya.. cuma hati kecilku dan Tuhan yang tahu apa arti dari sesimpul senyum yang ditorehkan di wajahku. Meskipun terlihat berbeda antara postingan malam ini dan postingan tadi pagi, tetapi ada sebuah konspirasi *halah ini apaaaa* yang membuatku ingin mengupload gambar-gambar ini. Maklum, jomblo *laaah ini apalagi* -___-

Buat komentar anak-anak kelasku yang lain, nggak aku upload dulu ya, soalnya inti dari postingan ini hanya untuk berbagi senyuman untuk kalian : )

*Tambahan: Tadi sore aku gambar karikatur mereka lagi (2 dosen unyu yang minta kesan dan pesan) di papan tulis. Lucu bangeeet hasilnya. Mau lihaaat yang sudah didigitalisasi? Tunggu di postingan berikutnya!

Tribute to Mr. Onggok

Di semester 4 ini, jiwa 'kegilaan' saya sudah semakin akut. Entah ini titisan dari siapa, semua ini mengalir begitu saja. Mungkin karena sering berteman dengan teman-teman yang gila juga ahauahuah. Okeoke, to the point aja deh. Buat kalian yang pernah merasakan belajar di kelas, baik di tempat kursus, ataupun di sekolah, pasti pernah disuruh nulis kesan dan pesan kan buat guru, dosen, atau bahkan tutor kalian? Pasti pernah kan meskipun sekali aja? Yes, kemarin ini, pas hari Rabu, kelas kita, DG4A disuruh buat bikin kesan dan pesan buat dosen Teknik Kemasan. Ya harapannya dia sih untuk mendapatkan saran dan kritik yang membangun dari kita. Ya cuma harapan sih.. Ya begini deh hasilnya pas dia upload ke jejaring sosial.. sebut saja, Facebook.


Nggak keliatan? Coba, zoom zoom zooooom! Punya saya yang itu tuh, yang digaris merah. Lah kenapa ada gambar-gambarnya? Yes, ini emang sengaja buat ngebedain sama punya yang lain, biar terasa lebih hidup huehehe. Coba liat komennya, dilihat, dilihaaaaat. Sekilas biasa aja sih, ya tapi kan ini buat dosen yakaaan, ya umurnya sih baru 30an, tapi ya pikir aja itu bahasanya....
Dosen yang satu ini emang sedikit gila, coba aja masa satu kelas kita dibilang busyuuuk semua redesign packagingnya. Entah ini cuma hiperbolanya dia aja apa gimana, tapi kita sendiri yang ngelihat dan ngebikin tentunya ngerasa udah keren HAHAHAHA -__- Belum lagi kosakatanya, busuk, nista, onggok, cemumu, dan kosakata bodoh lainnya yang seharusnya bukan ada di dalam kelas hahahah. Mau lihat kosakata bodoh lainnya? Cekidot gan!


Oiya, di atas saya nulis tentang packaging kita yang dibilang busyuk kan? Coba deh liat nih liaaaat penampakannya!

Redesign Packaging Teh

Kemasan Asli

Setelah diredesain
Awkeeeey, kalian bisa lihat sendiri perubahannya, apakah ada perubahan signifikan yang ke arah negatif atau positif. Dan dia bilang ini termasuk... BUSUK! *ngelap ingus* *ngelap keringat*. Udah mana pas giliran saya yang maju, belakangan (karena diundi), terus kan pas yang lainnya maju krik krik mellow gimana gitu yaa (didukung oleh suasana yang mendung juga), eh giliran saya, malah jadi kelas lawak gara-gara bahasa saya yang bodoh juga. Masa segmentasi teh ini buat wanita berpendidikan?! -____-'
Yasudahlah, sekian dulu cerita tentang Ayah kami, Mr. Onggok. Semoga hari-harimu menyenangkan setelah melewati masa-masa pengajaran dengan kami, Pak. Semoga perusahaan desainnya semakin sukses, Pak! :') *ngelap ingus lagi*.

-- Rizkitysha, 18 tahun, Desain Grafis 4A.

Thursday, February 9, 2012

Karena kehangatan datang dari orang terdekat

"Kalo aja kita semua masih sama-sama berstatus sebagai anak TK, aku akan peluk mereka satu persatu, tak terkecuali."

Ya, itulah quoteku hari ini. Sungguh hari yang menyenangkan bersama keluargaku, Desain Grafis 4A. Hari ini kita pergi makan dan karaokean, ya nggak semua anak juga sih, cuma setengahnya atau hanya sepuluh orang. Tumben banget kita punya waktu kosong di tengah kesibukan masing-masing. Yang biasanya aku hanya berkaraoke bersama teman-teman wanitaku, sekarang juga bersama anak laki-laki. Ada aku, Nisfi (birthday girl), Dyah, Gladys, Rizka, Yunita, Ageng, Aal, Fahmy, dan Ghondy. Acara ini untuk merayakan ulang tahun Nisfi, salah satu teman sekelasku. Tak disangka, anak laki-laki seperti Ageng, Aal, Fahmy, dan Ghondy tidak jaim saat disuruh berjoged bersama Rizka. Gelak tawa pun tak perlu ditahan lagi, toh kami sudah saling mengetahui bagaimana karakter masing-masing, jadi nggak ada yang perlu kusembunyikan kan seperti awal pertama aku masuk ke kelas ini.

Kalau diflashback ke masaku sekolah dulu ataupun masa tahun pertama aku menjadi mahasiswa, aku sadar banget kalo banyak hal yang kututupi dari diriku. Tapi sejak masuk ke kelas ini, perlahan-lahan aku mulai memperlihatkan siapa diriku sebenarnya. Hal ini terjadi karena kenyamanan yang diberikan oleh anak-anak kelasku.

DG4A bukan hanya sebatas teman sekelas, tapi mereka sudah kuanggap keluarga. Tiga tahun kami bersama, dan tanpa kami sadari, masing-masing dari kami adalah kompetitor masa depan. Aku sadar banget kok kalo aku selalu berusaha menjadi yang terbaik di kelas ini. Dateng paling pagi setiap hari alias dulu-duluan dateng sama Office Boy, nyari ilmu diluar perkuliahan yang nggak didapat dengan cuma-cuma oleh anak-anak lain, nyari orderan kemana aja, nyuri start duluan, selalu berusaha buat ngumpulin tugas on time, udah mikirin judul Tugas Akhir sebelum waktunya (meskipun akhirnya disuruh cari judul lain karena TA-ku tidak berhubungan dengan jurusan), udah mikirin dan mau nyari-nyari tempat buat Praktek Industri semester 5 nanti dimana, dan aku nggak mau munafik, pasti ada perasaan seneng kan kalo IP di atas rata-rata? Yes, hidup ini memang penuh kompetisi, dimana hidup yang sebenarnya memang dimulai dari dunia perkuliahan dan setelah itu, bekerja, dimana kita akan bersaing bersama manusia dengan profesi sejenis. Dia yang nggak survive, dia yang akan gugur.

Pada perkuliahan berbasis politeknik, kompetisi tidak seberat perkuliahan berbasis universitas. Tengoklah universitas, untuk kuliah saja mereka harus berebutan bangku agar bisa mendapatkan mata kuliah yang mereka inginkan. Urusan teman? Jangankan tiga tahun, teman untuk setiap mata kuliah saja sudah berbeda. Kecil peluang untuk mendapatkan kekeluargaan layaknya politeknik (khususnya jurusanku) yang selama tiga tahun kelasnya tidak pernah diacak. Bisa sih mendapatkan teman sepanjang kuliah, tapi itu akan didapatkan di luar kelas. Ya masing-masing ada untung dan ruginya juga sih. Tapi aku bersyukur kok sudah masuk ke dunia politeknik, dimana aku bisa mendapatkan keluarga di kampus khususnya di kelas, dan yang hanya sebatas teman, aku bisa dapatkan di luar kelas.

Oke, kembali ke topik, kembali ke DG4A. Meskipun masing-masing dari kami adalah kompetitor, tapi kalau hati sudah saling terhubung, maka kompetisi hanya sampulnya saja. Karena Tuhan menjodohkan kami untuk bersama di dalam satu kelas, untuk menyatukan jiwa kami dalam sebuah bidang yang sama, saling membantu satu sama lain, dan yang terpenting.. saling menyayangi :*

Catatan: Semoga nggak cuma aku yang punya pemikiran seperti ini di DG4A :')

Tuesday, January 17, 2012

Bersyukur

Waktu tengah malam seperti ini emang waktu yang paling cocok buat ngeblog, dimana orang-orang udah pada terlelap dalam tidurnya, bermain dengan dunia mimpi masing-masing, dan suasananya sunyi, cocok banget buat ngeluarin semua inspirasi. Nggak cuma inspirasi, tengah malam juga bisa dijadikan waktu yang tepat untuk perenungan, maka itu kan shalat tahajud waktunya udah sepertiga malam.

Tentang perenungan, kesini-sini aku mikir. Apa yang Allah kasih buat kita itu pasti yang terbaik buat kita, yang paling kita butuhkan juga. Tulisanku ini terinspirasi dari kejadian tadi siang, dimana aku secara tidak sengaja melihat profile picture salah satu tutor di tempat lesku dulu. Disana dia berpose memakai almamater kuning universitas seberang, universitas dimana dulu aku sempat berjuang mati-matian untuk bisa menjadi bagian dari civitas academica universitas tersebut. Sebuah universitas yang tentunya tidak hanya menjadi incaranku pada saat itu, tapi juga teman-teman seperjuanganku, teman-teman 2010. Jangankan pada saat itu, dulu sempat terlintas pikiran untuk ikut ujian universitas itu lagi loh di tahun 2011, karena aku masih meragukan jurusanku.

Lihat lebih dalam, lebih dalam, berpikir... dan ternyata terhentak, "Alhamdulillah, nggak jadi masuk situ." Loh loh loh? Kok bisa gitu? Perasaan dulu ngebet banget kan?

Selalu ada rencana-Nya yang lebih indah daripada yang kita impikan. Coba bayangin, kalo aku masuk situ, menjadi mahasiswa dari universitas itu, apa aku bakal seproduktif seperti sekarang? Sedikit demi sedikit, aku bisa mengumpulkan uang dari hasil orderan desainku. Tidak sedikit orang yang meminta bantuanku untuk mengerjakan proyek desain mereka. Kalo aku masuk universitas itu, nggak bakal ada Cangker Design Studio, sebuah perusahaan desain grafis yang aku bangun bersama tiga teman sekelasku. Belum tentu juga aku bisa mencari uang dengan bidang yang aku geluti selama kuliah di umur 17 tahun.


Mungkin dulu, waktu aku masih menjalani kehidupan sebagai mahasiswa tahun pertama, aku masih merasa kuliah ini sia-sia. Ke kampus hanya untuk menggambar, dosennya males-malesan, santai banget, kuliah-pulang kuliah-pulang (meskipun pada saat itu sudah mengikuti Himpunan Jurusan tapi nggak intens) dll. Tapi kesini-sini, kuliah itu nggak cuma sekedar ngejar IP, terus pulang. Nggak, itu salah banget. Jangan anggap dirimu mahasiswa jika yang kamu kerjakan hanya begitu setiap harinya. Semester 3 aku belajar tentang kehidupan. Dimana diriku bisa berguna buat orang lain kalau aku mencari celah untuk membantu mereka. Aku mulai intens menjalankan prokerku di himpunan bersama para adiv (anggota divisi)ku, mengikuti kepanitiaan, ikut organisasi di luar jurusan, dan hey! Meskipun ilmu desain grafis yang kudapat di kampus hanya ala kadarnya karena hanya berhubungan dengan desain grafis still dan 2 dimensi, tapi melalui organisasi di luar jurusan, aku bisa kok dapet ilmu yang lebih expert lagi. Inilah yang dinamakan sambil menyelam minum air. Dapet link banyak, ilmu juga nambah. Aku juga belajar buat ngatur emosi, ngatur waktu juga lho! Dimana aku harus bisa bagi waktu antara kuliah dan organisasi, dan juga... Cangker! Sebanyak mungkin aku cari orderan desain buat Cangker, lumayan juga kan buat nambahin portfolio. Sibuk sih, tapi enakan jadi orang sibuk daripada pengangguran, iya kan?

Ya, aku bersyukur. Aku bersyukur karena Allah selalu ngasi jalan terbaik buat sukses. Kehidupan yang berangsur-angsur membaik karena kesibukanku yang membuatku tidak merasa jadi orang yang hidupnya nyampah doang karena aktivitasnya yang cuma makan tidur aja. Alhamdulillah yah : )

Jadi pelajaran yang bisa dipetik adalah jangan langsung berpikir negatif apabila doamu tidak terwujud, karena pasti Allah sudah menyiapkan rencana terbaik buat kamu. Dan sekecil apapun nikmat yang Ia berikan, jangan lupa bersyukur ya ;)