Ramadan day 9
Working for passion, skill and experience.
Selalu ada banyak cerita tentang perpindahan. Dalam denotasinya, perpindahan bisa digambarkan sebagai kendaraan berroda yang dapat bergeser posisi, atau juga tempat tinggal yang akan terus berpindah. Cerita lainnya, hati manusia pun bisa berpindah, singgah dari satu hati ke hati yang lainnya, meninggalkan cerita lama dengan orang lain yang pernah disinggahi hatinya.
Dulu saya sempat berpikir bahwa perpindahan pasti akan menyebalkan, di mana kita harus kembali beradaptasi dengan lingkungan yang belum tentu akan lebih baik dari lingkungan sebelumnya. Beberapa bulan setelahnya, saya sempat mengetikan buah pikiran saya di sebuah jejaring sosial, kurang lebih seperti ini, "Karena perpindahan tidak selalu menyebalkan." Iya, tapi itu beberapa bulan yang lalu. Hari ini saya kembali mempertanyakan hal itu. Apa iya tidak selalu menyebalkan?
Dalam rentang waktu 1 bulan ini, di kantor kecil saya sudah 4 orang mencabut kewajiban bekerjanya sendiri di kantor kecil milik bos kami. Alasannya pun beragam, bisa karena memang memiliki masalah dengan atasan, bisa mungkin karena tidak sreg dengan kantor ini, atau mungkin saja ada tawaran pekerjaan lain dengan gaji yang menggiurkan. Saya tidak tahu pasti apa alasannya, karena dari 4 orang tersebut, hanya 1 yang meminta izin untuk berpindah --- mungkin ke tempat yang lebih baik. Bagaimana dengan yang lainnya? Ya, mereka hilang begitu saja, tanpa memberikan kabar kepada kami semua hingga kami hanya bisa bertanya-tanya sendiri kepada hati kecil kami, mengapa mereka berpindah dan tanpa mengucapkan selamat tinggal?
Sungguh saya pun masih asing dengan pemandangan seperti ini. Saya ingat betul di saat hari pertama saya magang di kantor advertising dulu, seorang asing yang diduga sempat menjadi copywriter di sana berjabat tangan, memberi pelukan hangat, dan mengucapkan selamat tinggal ke setiap pekerja di sana. Teman-teman yang ditinggalkannya pun juga tak kuasa untuk membendung rasa sedihnya, sedih kehilangan satu keluarganya untuk berpindah ke tempat yang lebih baik. Kehangatan itu pun terasa hingga sudah waktunya saya mencabut kewajiban saya sebagai anak magang 3 bulanan di sana. 2 lusin donat ternama saya bawa di hari terakhir saya mengabdi di kantor advertising tersebut. Semua berkumpul di ruang tengah, memberikan evaluasi terakhir untuk saya, dan juga tak lupa, sebuah hadiah yang dibungkus dengan kertas kado batik itu pun ada di atas meja, untuk saya. Di jam-jam terakhir saya menginjakkan kaki di sana pun saya tak lupa kembali memberikan jabatan tangan terkuat dan terhangat untuk keluarga 3 bulan tersebut. Mereka juga masih memberi saya wejangan-wejangan, supaya ketika saya lulus dan bekerja, saya bisa memperbaiki setiap kekurangan pada diri saya. Sedihnya pakai banget di kala itu. Melihat sekeliling, mengingat tidak akan ada lagi rutinitas untuk kembali bolak-balik ke sana.
Kesan mengenai hari terakhir di kantor magang dulu sungguh membekaskan cerita yang mendalam di hati saya. Tetapi kenapa hari ini, kenapa di lingkungan baru ini, saya tidak bisa menemukan hal itu? Kenapa mereka pergi tanpa pamit, tanpa mengucap selamat tinggal? Apa iya, hal ini terjadi karena tidak adanya ikatan batin yang terjadi pada satu sama lain? Apa iya, yang ada di pikiran mereka, "Kalau saya pergi juga nggak akan ada yang kehilangan..."? Lalu bagaimana jika suatu kali nanti saya yang harus berpindah?
Entah, saya hanya bisa menelan ludah.
Saya bingung, kenapa semenjak saya masih duduk di bangku kuliah, saya sangat mengincar untuk kerja di ahensi (agensi periklanan). Ketika beberapa teman-teman saya, baik dari jurusan yang sama ataupun jurusan lain mengincar untuk bekerja menjadi PNS atau di BUMN, ketika yang lainnya ingin masuk ke tempat besar seperti Kompas, atau pergi ke majalah, saya tidak mengikuti euforia tersebut. Padahal saya tahu, sepanjang saya menjadi anak magang di ahensi, kehidupan di ahensi itu nggak jauh dari kata zombie. Pergi pagi, pulang pagi. Kerjaan pun sering tak terkontrol. Dimana kita jadi client service, ya se-24 jam yang kita miliki itu buat memberikan service ke klien. Mereka minta deadline malam ini, ya malam itu kita harus selesaikan juga. Saya ingat betul masa-masa saya melotot karena terlampau kaget ketika mendengar newsletter katalog salah satu bank yang penuh dengan angka dan gambar (tiap bulannya harus diganti, kak!) sangat kecil itu harus selesai dalam satu hari. Padahal belum masukin gambarnya, ngepathnya (menghilangkan background dan kemudian backgroundnya menjadi transparan), mindahin kata-kata dari tabel klien ke newsletternya, eh revisinya apalagi. Waktu itu saya masih jadi anak magang, jadi saya masih bisa berlega hati karena saya hanya bertugas sebagai 'pembantu' para art director yang mengalami kesusahan. Tapi sekarang? Apa iya saya akan terus-terusan terjebak dalam kenyamanan anak magang?
Btw sejujurnya saya udah kerja. Udah dari November-ceria-milik-kita-bersama saya punya occupation baru. Bukan anak magang lagi, bukan freelancer lagi, tapi saya udah jadi graphic designer di salah satu event organizer. Kalo ditanya nyaman, saya akan jawab nyaman, lengkap dengan bangetnya. Seumur-umur saya nggak pernah ngerasain kenyamanan seperti ini. Saya nggak terjebak dengan kegilaan jalanan Jakarta yang terkenal macetnya hingga ke ujung dunia, iya, saya naik kereta, cuma 5 MENIT dari stasiun dekat rumah karena hanya cukup melewati 3 stasiun saja. Dari stasiun ke kantor saya hanya butuh jalan kaki sekitar 10-15 menitan. Itu kalo saya lagi pelit. Terkadang kalo saya lagi sok kaya, saya naik kendaraan umum dan butuh waktu cukup 5 menit. Gimana dengan makanannya? Saya bawa bekal dari rumah. Porsi makan pagi dan makan siang saya bawa semua ke kantor. Jajan? Itu cuma ada kalo saya laper banget dan kekurangan porsi perbekalan. Saya nggak bisa ngebayangin kalo ongkos kereta masih 8000, pasti saya nggak akan naik kereta dan memilih moda transportasi lain dan menelan pahit-pahit kemacetan Jakarta. Oh ya, bagaimana dengan pekerjaan di kantor saya? Saya nggak menemukan overload-to-do-list di sini. Alhamdulillah saya malah bisa mencari uang tambahan dari keisengan saya mengikuti situs crowdsourcing dalam hal desain mendesain. Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?
Tapi... iya, masih ada kata tapi. Manusia emang nggak pernah punya rasa puas. Udah dikasih enak, masih aja mau yang lebih lagi. Oke, balik ke topik. Tapi jiwa saya yang menggebu-gebu ingin menjadi bagian dari kreatif di advertising agency terus meronta-ronta. Saya menganggap masuk ahensi itu tantangan dan kecil kemungkinan kalo desain saya akan downgrade. Di sana banyak orang-orang hebat dengan skill yang oke punya, karena bukan orang sembarang yang bisa berhasil 'nyemplung' ke dalam dunia ahensi. Mindset yang ditanamkan oleh salah satu senior saya di kantor magang iklan dulu itu telah sangat tertanam di pikiran saya dan itu cukup dalam. Mbak Raina pernah bilang, "Soalnya kalo di sini (di kantor magang saya) bisa belajar semuanya. Bisa pegang proyek desain dalam bentuk apapun." sambil menggoyang-goyangkan tangannya. Portfolionya memang cukup beragam di kantor magang saya dulu. Bahkan dapat dikatakan fleksibel untuk jenjang karir setelah keluar dari sana.
Saya nggak nemuin ini di sini (event organizer). Saya nggak tau apa saya yang terlalu cepat mengambil kesimpulan apa enggak, tapi sejauh ini saya merasa di sini ya semuanya senada. Setiap ada proyek, pasti desain yang dibuat ya itu lagi itu lagi, nggak jauh dari poster, stage, invitation, kostum, backdrop, photo booth, sama paling konsep acaranya. Kalo saya terlalu lama di sini, saya takut kemampuan desain saya akan menjadi nggak berkembang. Dan hal paling terparno yang saya pikirkan adalah ketika interview berikutnya ditanya, "Kamu ngerjain apa aja disana? | Loh dalam waktu selama itu, kamu cuma ngerjain itu aja?" Duh.. keparnoan saya emang keterlaluan ya, padahal umur saya masih 20, masih ada banyak waktu untuk bereksplorasi, tapi kenapa saya maunya semua serba cepat dan as-soon-as-possible? Belum lagi saya kan masih kuliah ekstensi yang waktu kuliahnya seperti kelas karyawan, di hari Jumat malam dan Sabtu aja. Belum lagi skripsinya, kejar-kejaran sama dosen pembimbing.
Ada kalanya dalam hidup kita harus memilih, yang manakah yang harus didahulukan, ego atau realistis? Ikuti impian sekarang juga atau mengalah sebentar saja?
Saya pasti berkembang. Dalam waktu 8-9 bulan lagi, terima saya menjadi bagian dalam tim kalian, ya, kakak-kakak ahensi.
Bismillah.
Rizkitysha,
Calon Art Director.
15/12/2013.
Di malam ini, tiba-tiba kuteringat pada slide yang telah kubuat pada saat semester 3. Saat itu tugas kami adalah membuat presentasi mengenai goals kami setelah lulus dari kampus perjuangan kami. Waktu itu dosenku bilang, kami semua harus percaya kalau satu persatu goals tersebut akan tercapai, dengan niat juga tentunya. Dengan penuh semangat dan tekad yang bulat, aku membuat presentasi tersebut.
Waktu terus bergulir. Tak terasa sudah dua tahun lalu aku membuat life goals tersebut. Hingga aku lupa mengenai isi presentasi tersebut. Namun jika diingat lebih jauh, ternyata satu persatu goals dalam hidupku akhirnya tercapai. Lulus sidang di usia 19 tahun udah masuk ke dalam daftar checklist. Cumlaude? Yeah, beruntungnya aku tidak terdaftar ke dalam mahasiswa jurusan yang sulit dapat nilai cumlaude. Tapi sungguh, predikat cumlaude tidak terlalu penting untuk mahasiswi lulusan desain grafis seperti aku ini. Ya jurusan kamu, kamu, dan kamu, asal universitas dan nilai IPK itu hal yang paling penting kan jika untuk melamar pekerjaan. Tapi jurusanku? HAHA terima kasih sama sama, agensi kreatif sama sekali tak membutuhkan latar pendidikan seperti itu. Terlebih dahulu mereka melihat hasil kerja kami, para lulusan desain grafis, sebelum memutuskan untuk menginterview kami. Terdengarnya curang, ya. Tapi ini justru fair, ketika bukan nilai yang dipertaruhkan, tapi kemampuanmu sendiri :)
Sebagai lulusan diploma yang baru saja berumur 20 tahun, ini sulit. Aku diharuskan untuk bertarung mendapatkan pekerjaan dengan orang-orang yang lebih senior. Sungguh, ini jauh sekali lebih sulit daripada mendapatkan sekolah negeri. Logikanya, namanya senior, portofolionya lebih banyak, dong. Lah ini fresh graduated, kasarnya, bisa apa, sih? Kenapa harus ambil yang fresh graduated kalo ada yang lebih kompeten?
Besok udah ganti bulan. Aku lulus sudah dari akhir Juli. Yaaa ternyata sudah sekitar sebulan aku seperti orang yang nggak punya occupation (kalo kata Friendster, situs terkeren di eranya). Ngeapply sana sini, nggak ada yang dipanggil. Padahal aku nggak cuma ngeapply ke ahensi kelas atas lho, tapi juga ada yang biasa-biasa aja. Nggak ngerti kenapa kok nggak ada panggilan. Apa portofolioku terlalu nista hingga mereka enggan untuk menolehnya? I dunno.
Salah satu teman di kampus seberang bercerita jika dia baru saja diterima magang di kantor incaranku sejak aku masih menjadi mahasiswa tingkat 2. Iri? Tentu saja. Meskipun hanya magang, dia bisa mencicipi rasanya bekerja di ahensi worldwide. Dan tahu apa? CV miliknya yang berhasil lolos di ahensi tersebut adalah CV hasil layout buatanku. Whew! Hasil karyaku dipertunjukkan disana dan lolos, lho... meskipun bukan dengan namaku :')
Waktu tahu temanku itu bisa berhasil lolos ke ahensi tersebut, kucoba untuk melihat sisi positifnya sampai kuabadikan lho di twitter. Kurang lebih twitnya begini, "Rejeki nggak akan salah alamat."
N U NO WAT, as I said before, rejeki-nggak-akan-salah-alamat itu terrealisasi padaku di waktu yang tepat. Masih berhubungan dengan twitter, siapa yang nyangka kalo hanya dengan mention, "Hai mbak, sini mahasiswi desain grafis. Baru aja lulus :3", akan ada keberuntungan yang berpihak padaku. Secara tiba-tiba, aku diminta datang ke kantor si mbak yang kumention itu tepat setelah twit itu dilayangkan. Lho, yang mention banyak lho, terus kenapa aku? I dunno, that's my luck. And another surprised, gedung kantor yang harus kudatangi sore itu adalah gedung yang sama dengan perusahaan yang pernah kukirimkan CV + portofolio sebelumnya. Dan ternyata mereka selantai. SATU LANTAI, hanya berbeda pintu. Ohmeeennnnn. Haruskah sesempit itu?
Singkat cerita, sudah dua minggu ini aku bekerja sebagai freelance graphic designer di kantor ini, MEC Indonesia, sebuah perusahaan yang bergerak pada bisnis media buying & media planning. Iseng googling, ketemu artikel dari wikipedia, ternyata kantor ini jauh dari kalimat kantor yang biasa-biasa aja. Potongan kalimatnya, "...is the world’s largest advertising media company in terms of billings". Ya, artiin sendiri lah maksudnya apa. Kantor ini pun juga berpartner sama advertising agency multinasional yang juga menjadi incaranku sejak lama. Hmm..
Bersyukur? Banget. Iri? Itu telah berlalu, kan. Biarpun hanya seorang freelancer, tapi aku bersyukuuuur banget. Siapa juga yang pernah nyangka kalo anak ingusan seperti aku bakal nyicipin meja kerja ahensi multinasional, meskipun hal ini terjadi karena lagi lagi, ada faktor luck yang tinggi. Dan jika diflashback ke presentasi semester 3 tersebut, tau nggak apa pekerjaan impian aku tepat setelah lulus kuliah? Jadi freelancer! Akhirnya hal ini terwujud setelah banyak angan lainnya melintas di pikiranku.
Untuk menjadikan goals dalam hidup ini pada sebuah kenyataan itu butuh proses. Ibarat bayi, nggak ada bayi yang langsung bisa berjalan, pasti merangkak dulu. Begitupun hidup kita. Pencapaian itu tidak datang secara bersamaan, melainkan satu persatu.
Aku nulis postingan ini nggak ada maksud sombong. Just for sharing, kok. Intinya, jangan takut bermimpi setinggi-tingginya. Kalo ada tekad yang bulat dan itu memang baik bagimu, Tuhan akan buka pintu rezekimu selebar-lebarnya. Dan jangan lupa, rezeki nggak akan salah alamat ;)
CHECKED!