Saturday, January 31, 2015

Saya Mau Jadi Anak Ahensi - Part 2

Desember 2014.

Bulan November telah usai, 2014 pun juga hampir usai. November lalu terasa begitu penuh buatku, terutama di bulan November bagian akhir. Banyak sekali kejadian yang tak terduga dan semua begitu terasa nano-nano. Sedikit bocoran, November 2014 buat saya adalah tentang pitching, wisuda kedua kalinya yaitu wisuda sarjana, dan proses untuk mencapai mimpi.

Masih ingat tulisan saya yang ini --- Saya Mau Jadi Anak Ahensi - Part 1? Kelanjutan tulisan saya ini ternyata terjadi di bulan November. Desember 2013 saya bilang kalau saya akan kembali ke dunia ahensi di sekitar bulan Agustus-September 2014. Tapi kenyataan berkata lain. Di bulan-bulan tersebut saya masih saja disibukan dengan skripsi sarjana saya. Bolak balik bimbingan skripsi kesana kemari, revisi yang tak kunjung usai, pekerjaan kantor yang semakin menggila, plus saya harus lembur sampai tengah malam. Berkali-kali saya berusaha mencari tombol escape karena tidak yakin kalau seluruhnya akan terlewati dengan baik, tapi tombol itu tak pernah ditemukan. Bayangkan saja bagaimana rasanya ketika pekerjaan kantor datang tanpa henti, kemudian malamnya saya harus pergi bimbingan, dan parahnya, PR bimbingan saya belum benar-benar selesai. Meski pergi bimbingannya pukul setengah delapan malam, tapi saya bener-bener merasa akan melarikan diri dari kantor, meninggalkan pekerjaan-pekerjaan yang sebenarnya harus dikerjakan. Padahal sebenarnya di pukul setengah enam saya sudah terbebas dari pekerjaan dan boleh beranjak pulang. Yah gimana, nasib kerja di Event Organizer kan begitu. Over time dan tanpa uang lembur, tanpa dapat makan malam pula. Oke, yang terakhir itu untung-untungan. Makanya, sejujurnya dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya gemes banget kalau lihat anak-anak yang hanya punya satu okupasi --- mahasiswa aja maksudnya, tapi skripsinya nggak selesai-selesai, padahal mereka nggak harus banting tulang untuk mengumpulkan pundi-pundi keuangan. Terus karena terlambat lulus, uang semesterannya harus dibayarkan ekstra sama orangtuanya. Kenapa miris banget?

29 November lalu saya diwisuda. Tombol escape yang nggak pernah saya temukan itu memang seharusnya nggak pernah saya temukan, karena tombol escape hanya muncul untuk yang lemah, semacam loser. Meskipun banyak kecacatan dalam wisuda saya kemarin, but overall, saya bangga, bangga sekali. Jerih payah selama 6 bulan terakhir ini akhirnya terbayar juga, saya bisa mengikuti wisuda untuk yang kedua kalinya. Kuliah empat tahun, wisuda dua kali, di umur 20 dan 21 tahun. Terus pas lulus statusnya sudah bukan fresh graduated lagi, tapi sudah dengan pengalaman pekerjaan selama 1 tahun sebagai full time creative designer. Yaampun, kalau dirujuk ke postingan-postingan blog ini seperti Postingan Tahun 2010 dan Postingan Tahun 2012, saya udah nggak punya lagi alasan untuk jadi orang yang nggak bersyukur. Saya cinta, cinta sekali dengan hidup saya, meski dalam urusan percintaan, mungkin saya yang terpayah :)) #Intermezzo.

Selain menawarkan cerita tentang wisuda, di akhir bulan November ini saya baru sempat mencoba peruntungan kembali untuk masuk ke dalam dunia ahensi. Bukan sekadar mencoba peruntungan tentunya, tapi mencoba kembali meraih mimpi yang sempat tertunda selama satu tahun.



Sampul CV Talita Leoni Rizkitysha 2015

Dua kata, naik kelas. Saya antarkan CV saya ke beberapa tempat, dan tentu saja dengan fasilitas surat elektronik. Saya yang bisa dibilang sebagai yesterday afternoon child ini tentu nggak pernah membayangkan kalau ternyata ahensi yang akan manggil saya adalah salah satu multinational agency di Indonesia, yang kantornya juga berada di gedung-gedung perkantoran megah di bilangan Jakarta Selatan. Dan yang lebih nggak pernah saya bayangkan adalah saya yang dipanggil di sana sebagai art director. MEEEN, banyak gaya banget anak umur dua satu ngeapply jadi art director! Dan benarlah, saat di-challenge untuk mengonsep sebuah iklan televisi, saya agak banyak bingung di awal, karena di saat itu pula, tepat di depan sang creative director, saya harus mengeluarkan ide-ide gila saya. Akan tetapi karena saya yang minim akan pengalaman menjadi art director, ide yang saya keluarkan ya begitu saja, bukan sesuatu yang oh-my-God-that-is-a-great-idea. 

Creative director di sana bilang kalau desain saya bagus, bagus banget. Dia merekomendasikan saya untuk jadi graphic designer di sana kepada sang HRD. Wah, saya seperti melihat ada secercah harapan untuk menjadi bagian dari mereka. Saya sudah membayangkan kalau, "Wah, Talita, fresh graduated in Bachelor degree with one year working experience, sekarang jadi anak ahensi di multinational company lagi, terus klien-kliennya dari luar negeri." Ya, saya hanya anak ingusan yang hobi sekali ngayal. Saya ngayal terlalu jauh, karena pada kenyataannya, untuk saat itu di sana belum membutuhkan graphic designer. Mereka bilang, mungkin di awal tahun, di saat pekerjaan sedang datang banyak-banyaknya, ada posibilitas untuk mereka panggil saya lagi :') 

Sebelum saya kembali ke kantor, sang HRD berpesan pada saya untuk segera mengambil kursus bahasa inggris, karena di ahensi, setidaknya ada satu dua orang ekspatriat. Dan pesan lainnya adalah saya harus berlatih untuk berpikir kreatif dengan membuat personal project. Mungkin bisa berupa kampanye sosial yang problematikanya diangkat dari masalah-masalah di Jakarta. 

Sepulangnya dari sana, tentunya ada perasaan kecewa di dalam hati kecil saya. Tapi di sepanjang perjalanan menuju kembali ke kantor, saya begitu bangga atas diri saya sendiri, mengingat satu tahun yang lalu, kantor-kantor yang memanggil saya untuk interview adalah bukan berasal dari ranah advertising agency. Sedikit nggak nyangka aja, ternyata portfolio saya bisa tembus ke dunia ahensi. Yang tadinya saya meragukan kalau saya akan berkembang di kantor saya sekarang yang merupakan event organizer, ternyata saya telah salah menilai. Desain saya bukannya downgrade, malah jadinya berkembang pesat. Begitupun dengan cara saya mendevelop sebuah konsep. Jam kerja yang jauh lebih banyak daripada teman-teman seprofesi saya ternyata cukup mempengaruhi portfolio saya. Yaaa, ternyata Tuhan memang lebih mengetahui mana yang terbaik untuk kita, kan?

Monday, July 7, 2014

Dear Fresh Graduated

Some people work for (much) money,
another work for skill and experience.

Entah kenapa di pagi ini kata-kata tersebut terlintas di benak saya. Teringat tentang teman-teman saya, bahkan yang studinya belum selesai pun begitu mengharap bayaran sebesar-besarnya. Begitu pula ketika mereka hanya berstatus sebagai anak magang, harapan untuk mendapatkan bayaran jauh lebih besar dibanding banyaknya ilmu yang akan didapat. Hanya senyuman penuh arti yang bisa saya ekspresikan kala itu.

Di dalam hati pun saya tertawa dan bergumam ketika mereka berkata seperti itu. "Memangnya apa yang bisa dijual dari kamu? Kamu yakin kalo dengan ngehire kamu dan memberikan bayaran besar buat kamu akan lebih bermanfaat dibanding bayar sedikit lebih mahal untuk yang lebih berpengalaman?". Pahitnya, kalau saya yang jadi bosnya, saya tidak mau merekrut anak magang yang seperti itu. Namanya juga anak magang, yang sebenarnya perlu kan anaknya. Dibayar/tidak dibayar ya bonus. Dulu pun saya magang tidak sepeser pun uang yang saya terima, karena di kantor magang saya dulu, mereka tidak ingin kalau motivasi magangnya adalah untuk mendapatkan uang. Tetapi tenang, Tuhan itu adil kok. Ilmu yang saya dapat terhitung jauh lebih banyak diserap dibanding teman-teman saya yang magangnya dibayar. Manis kan?

Tanpa kemunafikan, saya juga pernah kok berekspektasi untuk mendapat bayaran di atas UMR Jakarta ketika nantinya saya lulus D3 dan bekerja. Tapi ketika saya terjun langsung di dunia nyata dan ekspektasi tersebut berbalik layaknya jarum jam yang dipaksa untuk berputar ke arah kiri, saya baru memahami tentang sebuah proses kehidupan. Jujur, saya hanya mendapatkan gaji pokok sebesar 50% dari ekspektasi saya. Jaminan kesehatan dan teman-temannya? Tentu saja....... mana ada.

Di awal saya menjadi fresh graduated, saya harus amat pintar dalam menyusun anggaran. Kenyataan pahit seperti harus berjalan kaki dengan kecepatan tinggi selama 15 menit dari stasiun hingga kantor dan membawa perbekalan dari rumah harus saya jalani selama beberapa bulan pertama. Perjalanan harus dilakukan secepat mungkin demi tidak adanya potongan gaji. Belum lagi di setiap hari Jumatnya saya harus mengeluarkan 1 lembar berwarna merah muda demi keberangkatan saya menuju kampus dan kepulangan saya yang begitu larut dari kampus menuju rumah. Bagaimana jam kerjanya? Jangan pula berpikir saya pulang Teng-Go, saya harus menyiapkan tenaga lebih untuk overtime.

Terkadang saya berpikir kalau saya dan sapi perah tiada bedanya. Namun saya selalu berusaha untuk meyakini kalau keindahan dan kenyamanan akan saya dapatkan di waktu yang tepat. Dan benar saja, dalam waktu dua bulan, saya mendapatkan kenaikan bayaran yang cukup besar. Orang lain yang menuntut bayaran besar di awal pun saya rasa tidak pernah mendapatkan kenaikan sebesar ini, apalagi untuk fresh graduated. Lagi-lagi, saya merasa telah menjadi orang yang paling beruntung di dunia ini.

Sebenarnya ada begitu banyak lahan pekerjaan yang bisa membuat saya tidak merasakan overtime yang berlebihan. Namun saya kembali berpikir, mengapa saya harus pulang Teng-Go di usia 20 tahun? Apa dengan bekerja Teng-Go skill saya akan sama dengan ketika bekerja lebih lama? Ada banyak alasan untuk menjawab tidak. Bobot pekerjaannya sudah pasti berbeda dan portfolio akan menjawab semuanya. Di pikiran saya, tidak apa sekarang gaji pas-pasan, yang penting tidak ada kebodohan di masa depan, kan?

Oh ya, yang terparah, jangan sampai bekerja untuk gaji yang besar tetapi dengan mengesampingkan passion. Bekerja di luar passion itu tidak menyenangkan sama sekali, yang ada malah jadi bekerja setengah hati.



Jadi gimana, uang banyak atau pengalaman?
Itu pilihan kamu.



TLR
Ramadan day 9
Working for passion, skill and experience.

Monday, February 3, 2014

Perpindahan

Selalu ada banyak cerita tentang perpindahan. Dalam denotasinya, perpindahan bisa digambarkan sebagai kendaraan berroda yang dapat bergeser posisi, atau juga tempat tinggal yang akan terus berpindah. Cerita lainnya, hati manusia pun bisa berpindah, singgah dari satu hati ke hati yang lainnya, meninggalkan cerita lama dengan orang lain yang pernah disinggahi hatinya.

Dulu saya sempat berpikir bahwa perpindahan pasti akan menyebalkan, di mana kita harus kembali beradaptasi dengan lingkungan yang belum tentu akan lebih baik dari lingkungan sebelumnya. Beberapa bulan setelahnya, saya sempat mengetikan buah pikiran saya di sebuah jejaring sosial, kurang lebih seperti ini, "Karena perpindahan tidak selalu menyebalkan." Iya, tapi itu beberapa bulan yang lalu. Hari ini saya kembali mempertanyakan hal itu. Apa iya tidak selalu menyebalkan?

Dalam rentang waktu 1 bulan ini, di kantor kecil saya sudah 4 orang mencabut kewajiban bekerjanya sendiri di kantor kecil milik bos kami. Alasannya pun beragam, bisa karena memang memiliki masalah dengan atasan, bisa mungkin karena tidak sreg dengan kantor ini, atau mungkin saja ada tawaran pekerjaan lain dengan gaji yang menggiurkan. Saya tidak tahu pasti apa alasannya, karena dari 4 orang tersebut, hanya 1 yang meminta izin untuk berpindah --- mungkin ke tempat yang lebih baik. Bagaimana dengan yang lainnya? Ya, mereka hilang begitu saja, tanpa memberikan kabar kepada kami semua hingga kami hanya bisa bertanya-tanya sendiri kepada hati kecil kami, mengapa mereka berpindah dan tanpa mengucapkan selamat tinggal?

Sungguh saya pun masih asing dengan pemandangan seperti ini. Saya ingat betul di saat hari pertama saya magang di kantor advertising dulu, seorang asing yang diduga sempat menjadi copywriter di sana berjabat tangan, memberi pelukan hangat, dan mengucapkan selamat tinggal ke setiap pekerja di sana. Teman-teman yang ditinggalkannya pun juga tak kuasa untuk membendung rasa sedihnya, sedih kehilangan satu keluarganya untuk berpindah ke tempat yang lebih baik. Kehangatan itu pun terasa hingga sudah waktunya saya mencabut kewajiban saya sebagai anak magang 3 bulanan di sana. 2 lusin donat ternama saya bawa di hari terakhir saya mengabdi di kantor advertising tersebut. Semua berkumpul di ruang tengah, memberikan evaluasi terakhir untuk saya, dan juga tak lupa, sebuah hadiah yang dibungkus dengan kertas kado batik itu pun ada di atas meja, untuk saya. Di jam-jam terakhir saya menginjakkan kaki di sana pun saya tak lupa kembali memberikan jabatan tangan terkuat dan terhangat untuk keluarga 3 bulan tersebut. Mereka juga masih memberi saya wejangan-wejangan, supaya ketika saya lulus dan bekerja, saya bisa memperbaiki setiap kekurangan pada diri saya. Sedihnya pakai banget di kala itu. Melihat sekeliling, mengingat tidak akan ada lagi rutinitas untuk kembali bolak-balik ke sana.

Kesan mengenai hari terakhir di kantor magang dulu sungguh membekaskan cerita yang mendalam di hati saya. Tetapi kenapa hari ini, kenapa di lingkungan baru ini, saya tidak bisa menemukan hal itu? Kenapa mereka pergi tanpa pamit, tanpa mengucap selamat tinggal? Apa iya, hal ini terjadi karena tidak adanya ikatan batin yang terjadi pada satu sama lain? Apa iya, yang ada di pikiran mereka, "Kalau saya pergi juga nggak akan ada yang kehilangan..."? Lalu bagaimana jika suatu kali nanti saya yang harus berpindah?

Entah, saya hanya bisa menelan ludah.

Thursday, December 12, 2013

Saya mau jadi anak ahensi.

Saya bingung, kenapa semenjak saya masih duduk di bangku kuliah, saya sangat mengincar untuk kerja di ahensi (agensi periklanan). Ketika beberapa teman-teman saya, baik dari jurusan yang sama ataupun jurusan lain mengincar untuk bekerja menjadi PNS atau di BUMN, ketika yang lainnya ingin masuk ke tempat besar seperti Kompas, atau pergi ke majalah, saya tidak mengikuti euforia tersebut. Padahal saya tahu, sepanjang saya menjadi anak magang di ahensi, kehidupan di ahensi itu nggak jauh dari kata zombie. Pergi pagi, pulang pagi. Kerjaan pun sering tak terkontrol. Dimana kita jadi client service, ya se-24 jam yang kita miliki itu buat memberikan service ke klien. Mereka minta deadline malam ini, ya malam itu kita harus selesaikan juga. Saya ingat betul masa-masa saya melotot karena terlampau kaget ketika mendengar newsletter katalog salah satu bank yang penuh dengan angka dan gambar (tiap bulannya harus diganti, kak!) sangat kecil itu harus selesai dalam satu hari. Padahal belum masukin gambarnya, ngepathnya (menghilangkan background dan kemudian backgroundnya menjadi transparan), mindahin kata-kata dari tabel klien ke newsletternya, eh revisinya apalagi. Waktu itu saya masih jadi anak magang, jadi saya masih bisa berlega hati karena saya hanya bertugas sebagai 'pembantu' para art director yang mengalami kesusahan. Tapi sekarang? Apa iya saya akan terus-terusan terjebak dalam kenyamanan anak magang?

Btw sejujurnya saya udah kerja. Udah dari November-ceria-milik-kita-bersama saya punya occupation baru. Bukan anak magang lagi, bukan freelancer lagi, tapi saya udah jadi graphic designer di salah satu event organizer. Kalo ditanya nyaman, saya akan jawab nyaman, lengkap dengan bangetnya. Seumur-umur saya nggak pernah ngerasain kenyamanan seperti ini. Saya nggak terjebak dengan kegilaan jalanan Jakarta yang terkenal macetnya hingga ke ujung dunia, iya, saya naik kereta, cuma 5 MENIT dari stasiun dekat rumah karena hanya cukup melewati 3 stasiun saja. Dari stasiun ke kantor saya hanya butuh jalan kaki sekitar 10-15 menitan. Itu kalo saya lagi pelit. Terkadang kalo saya lagi sok kaya, saya naik kendaraan umum dan butuh waktu cukup 5 menit. Gimana dengan makanannya? Saya bawa bekal dari rumah. Porsi makan pagi dan makan siang saya bawa semua ke kantor. Jajan? Itu cuma ada kalo saya laper banget dan kekurangan porsi perbekalan. Saya nggak bisa ngebayangin kalo ongkos kereta masih 8000, pasti saya nggak akan naik kereta dan memilih moda transportasi lain dan menelan pahit-pahit kemacetan Jakarta. Oh ya, bagaimana dengan pekerjaan di kantor saya? Saya nggak menemukan overload-to-do-list di sini. Alhamdulillah saya malah bisa mencari uang tambahan dari keisengan saya mengikuti situs crowdsourcing dalam hal desain mendesain. Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

Tapi... iya, masih ada kata tapi. Manusia emang nggak pernah punya rasa puas. Udah dikasih enak, masih aja mau yang lebih lagi. Oke, balik ke topik. Tapi jiwa saya yang menggebu-gebu ingin menjadi bagian dari kreatif di advertising agency terus meronta-ronta. Saya menganggap masuk ahensi itu tantangan dan kecil kemungkinan kalo desain saya akan downgrade. Di sana banyak orang-orang hebat dengan skill yang oke punya, karena bukan orang sembarang yang bisa berhasil 'nyemplung' ke dalam dunia ahensi. Mindset yang ditanamkan oleh salah satu senior saya di kantor magang iklan dulu itu telah sangat tertanam di pikiran saya dan itu cukup dalam. Mbak Raina pernah bilang, "Soalnya kalo di sini (di kantor magang saya) bisa belajar semuanya. Bisa pegang proyek desain dalam bentuk apapun." sambil menggoyang-goyangkan tangannya. Portfolionya memang cukup beragam di kantor magang saya dulu. Bahkan dapat dikatakan fleksibel untuk jenjang karir setelah keluar dari sana.

Saya nggak nemuin ini di sini (event organizer). Saya nggak tau apa saya yang terlalu cepat mengambil kesimpulan apa enggak, tapi sejauh ini saya merasa di sini ya semuanya senada. Setiap ada proyek, pasti desain yang dibuat ya itu lagi itu lagi, nggak jauh dari poster, stage, invitation, kostum, backdrop, photo booth, sama paling konsep acaranya. Kalo saya terlalu lama di sini, saya takut kemampuan desain saya akan menjadi nggak berkembang. Dan hal paling terparno yang saya pikirkan adalah ketika interview berikutnya ditanya, "Kamu ngerjain apa aja disana? | Loh dalam waktu selama itu, kamu cuma ngerjain itu aja?" Duh.. keparnoan saya emang keterlaluan ya, padahal umur saya masih 20, masih ada banyak waktu untuk bereksplorasi, tapi kenapa saya maunya semua serba cepat dan as-soon-as-possible? Belum lagi saya kan masih kuliah ekstensi yang waktu kuliahnya seperti kelas karyawan, di hari Jumat malam dan Sabtu aja. Belum lagi skripsinya, kejar-kejaran sama dosen pembimbing.

Ada kalanya dalam hidup kita harus memilih, yang manakah yang harus didahulukan, ego atau realistis? Ikuti impian sekarang juga atau mengalah sebentar saja?

Saya pasti berkembang. Dalam waktu 8-9 bulan lagi, terima saya menjadi bagian dalam tim kalian, ya, kakak-kakak ahensi.

Bismillah.

Rizkitysha,
Calon Art Director.
15/12/2013.

Saturday, August 31, 2013

After Graduated

Di malam ini, tiba-tiba kuteringat pada slide yang telah kubuat pada saat semester 3. Saat itu tugas kami adalah membuat presentasi mengenai goals kami setelah lulus dari kampus perjuangan kami. Waktu itu dosenku bilang, kami semua harus percaya kalau satu persatu goals tersebut akan tercapai, dengan niat juga tentunya. Dengan penuh semangat dan tekad yang bulat, aku membuat presentasi tersebut.

Waktu terus bergulir. Tak terasa sudah dua tahun lalu aku membuat life goals tersebut. Hingga aku lupa mengenai isi presentasi tersebut. Namun jika diingat lebih jauh, ternyata satu persatu goals dalam hidupku akhirnya tercapai. Lulus sidang di usia 19 tahun udah masuk ke dalam daftar checklist. Cumlaude? Yeah, beruntungnya aku tidak terdaftar ke dalam mahasiswa jurusan yang sulit dapat nilai cumlaude. Tapi sungguh, predikat cumlaude tidak terlalu penting untuk mahasiswi lulusan desain grafis seperti aku ini. Ya jurusan kamu, kamu, dan kamu, asal universitas dan nilai IPK itu hal yang paling penting kan jika untuk melamar pekerjaan. Tapi jurusanku? HAHA terima kasih sama sama, agensi kreatif sama sekali tak membutuhkan latar pendidikan seperti itu. Terlebih dahulu mereka melihat hasil kerja kami, para lulusan desain grafis, sebelum memutuskan untuk menginterview kami. Terdengarnya curang, ya. Tapi ini justru fair, ketika bukan nilai yang dipertaruhkan, tapi kemampuanmu sendiri :)

Sebagai lulusan diploma yang baru saja berumur 20 tahun, ini sulit. Aku diharuskan untuk bertarung mendapatkan pekerjaan dengan orang-orang yang lebih senior. Sungguh, ini jauh sekali lebih sulit daripada mendapatkan sekolah negeri. Logikanya, namanya senior, portofolionya lebih banyak, dong. Lah ini fresh graduated, kasarnya, bisa apa, sih? Kenapa harus ambil yang fresh graduated kalo ada yang lebih kompeten?

Besok udah ganti bulan. Aku lulus sudah dari akhir Juli. Yaaa ternyata sudah sekitar sebulan aku seperti orang yang nggak punya occupation (kalo kata Friendster, situs terkeren di eranya). Ngeapply sana sini, nggak ada yang dipanggil. Padahal aku nggak cuma ngeapply ke ahensi kelas atas lho, tapi juga ada yang biasa-biasa aja. Nggak ngerti kenapa kok nggak ada panggilan. Apa portofolioku terlalu nista hingga mereka enggan untuk menolehnya? I dunno.

Salah satu teman di kampus seberang bercerita jika dia baru saja diterima magang di kantor incaranku sejak aku masih menjadi mahasiswa tingkat 2. Iri? Tentu saja. Meskipun hanya magang, dia bisa mencicipi rasanya bekerja di ahensi worldwide. Dan tahu apa? CV miliknya yang berhasil lolos di ahensi tersebut adalah CV hasil layout buatanku. Whew! Hasil karyaku dipertunjukkan disana dan lolos, lho... meskipun bukan dengan namaku :')

Waktu tahu temanku itu bisa berhasil lolos ke ahensi tersebut, kucoba untuk melihat sisi positifnya sampai kuabadikan lho di twitter. Kurang lebih twitnya begini, "Rejeki nggak akan salah alamat."

N U NO WAT, as I said before, rejeki-nggak-akan-salah-alamat itu terrealisasi padaku di waktu yang tepat. Masih berhubungan dengan twitter, siapa yang nyangka kalo hanya dengan mention, "Hai mbak, sini mahasiswi desain grafis. Baru aja lulus :3", akan ada keberuntungan yang berpihak padaku. Secara tiba-tiba, aku diminta datang ke kantor si mbak yang kumention itu tepat setelah twit itu dilayangkan. Lho, yang mention banyak lho, terus kenapa aku? I dunno, that's my luck. And another surprised, gedung kantor yang harus kudatangi sore itu adalah gedung yang sama dengan perusahaan yang pernah kukirimkan CV + portofolio sebelumnya. Dan ternyata mereka selantai. SATU LANTAI, hanya berbeda pintu. Ohmeeennnnn. Haruskah sesempit itu?

Singkat cerita, sudah dua minggu ini aku bekerja sebagai freelance graphic designer di kantor ini, MEC Indonesia, sebuah perusahaan yang bergerak pada bisnis media buying & media planning. Iseng googling, ketemu artikel dari wikipedia, ternyata kantor ini jauh dari kalimat kantor yang biasa-biasa aja. Potongan kalimatnya, "...is the world’s largest advertising media company in terms of billings". Ya, artiin sendiri lah maksudnya apa. Kantor ini pun juga berpartner sama advertising agency multinasional yang juga menjadi incaranku sejak lama. Hmm..

Bersyukur? Banget. Iri? Itu telah berlalu, kan. Biarpun hanya seorang freelancer, tapi aku bersyukuuuur banget. Siapa juga yang pernah nyangka kalo anak ingusan seperti aku bakal nyicipin meja kerja ahensi multinasional, meskipun hal ini terjadi karena lagi lagi, ada faktor luck yang tinggi. Dan jika diflashback ke presentasi semester 3 tersebut, tau nggak apa pekerjaan impian aku tepat setelah lulus kuliah? Jadi freelancer! Akhirnya hal ini terwujud setelah banyak angan lainnya melintas di pikiranku.

Untuk menjadikan goals dalam hidup ini pada sebuah kenyataan itu butuh proses. Ibarat bayi, nggak ada bayi yang langsung bisa berjalan, pasti merangkak dulu. Begitupun hidup kita. Pencapaian itu tidak datang secara bersamaan, melainkan satu persatu.

Aku nulis postingan ini nggak ada maksud sombong. Just for sharing, kok. Intinya, jangan takut bermimpi setinggi-tingginya. Kalo ada tekad yang bulat dan itu memang baik bagimu, Tuhan akan buka pintu rezekimu selebar-lebarnya. Dan jangan lupa, rezeki nggak akan salah alamat ;)

CHECKED!